ENESTE.ID
  • Home
  • Tentang Kami
  • Puisi
  • Buku
  • Quote
  • Berita Sastra
  • TBM Cahaya Rumah
    • Literasi Sekolah
      • TK
      • SD
      • SMP
      • SMA
      • KAMPUS
    • Lomba
  • Contact Us
  • Puisi

    Buku

    Berita Sastra


    Lentera di Atas Nisan Waktu

    Di ambang pagi, Ibu menggantungkan lenteranya—
    api kecil yang menirukan denyut bumi.
    Pagi berjalan seperti puisi Homeros,
    membawa kisah perjalanan panjang
    yang selalu kembali ke dekapan rumah.

    Tangannya mengetuk wajan tembaga,
    suara berulang menyerupai mantra purba.
    Di sela denting, angin memanggil pulang,
    dan dapur menjelma medan perang
    antara lapar dan harapan.

    Aku meresapi ragi yang menguapkan hidup,
    seperti Ikarus yang gagal belajar jatuh.
    Ibu menyiramnya dengan doa tipis
    yang mengalir dari keriput
    laksana sungai kecil mencari laut.

    Saat senja datang dengan langkah malas,
    Ibu berdialog dengan bayangannya sendiri.
    Mereka saling menukar beban:
    satu memeluk gelap,
    satu mengasuh terang.

    Dan ketika malam menutup halaman hari,
    lentera itu masih bernyala—
    menjadi saksi bahwa kasih tak pernah wafat.
    Jika esok kembali hancur,
    Ibu-lah yang pertama merajut ulang waktu
    dengan benang sabar yang tak pernah putus.

    Bandar Lampung, 14 Desember 2025

    Benang yang Menjahit Pulang

    Di jemarinya, jarum berdansa,
    menusuk pagi yang hampir retak,
    mengikat sunyi yang berlari kencang,
    seakan jarumnya adalah kompas sunyi,
    menambal celah hari tanpa suara.

    Ia menjahit pulang di lekuk senja,
    menarik benang jingga yang bandel,
    membuat angin menunduk hormat,
    membuat bayang kembali merapat,
    meski pekat malam berusaha merebutnya.

    Kursi tua itu menggerutu,
    merindukan punggung yang tak henti bergoyang lembut—
    Ibu menenun waktu,
    menipu usia yang tak bertepi,
    membuat detik seolah berhenti bernapas.

    Kadang ia menertawakan gelap,
    kadang menghibur terang,
    dua musuh berdamai di matanya yang teduh,
    dua dunia saling memanggil,
    namun ia tetap menjadi jembatan yang tak pernah patah.

    Dan ketika simpul terakhir mengikat ujung malam,
    ia bisikkan mantra lama—
    “Pulang… pulang…”
    hingga bumi ikut mendekap hangat,
    dan aku pun mengerti:
    setiap langkahku hanyalah jalan kembali ke pangkuannya.

    Bandar Lampung, 11 Desember 2025

    Timothy Yan Felix Sitorus. Lahir di Bandar Lampung pada 8 Januari 2009 dan saat ini berdomisili di Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Ia merupakan siswa SMA Negeri 5 Bandar Lampung yang menaruh minat besar pada dunia akademik, literasi, serta pengembangan gagasan melalui tulisan. Sejak di bangku sekolah, Timothy dikenal sebagai pribadi yang tekun, disiplin, dan memiliki ketertarikan kuat pada ilmu pengetahuan serta refleksi terhadap berbagai persoalan pendidikan dan sosial.

    Ketertarikannya pada bidang akademik mendorongnya aktif mengikuti berbagai kompetisi ilmiah. Ia pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang IPA tingkat SMP serta meraih medali perak dalam kompetisi olimpiade matematika. Pada tahun 2024, ia meraih medali emas dalam Olimpiade Sains Indonesia (OSI) tingkat nasional bidang Geografi. Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya dalam mengasah daya pikir kritis, analitis, dan kepekaan terhadap dinamika pengetahuan.

    Di luar kegiatan akademik, Timothy juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan sebagai anggota Duta Bank Sampah. Ia memiliki kegemaran membaca dan mendengarkan musik, yang baginya menjadi ruang perenungan sekaligus sumber inspirasi dalam menulis. Melalui tulisan-tulisannya, Timothy berupaya menghadirkan gagasan, refleksi, serta harapan tentang pendidikan, masyarakat, dan masa depan generasi muda.

    Timothy dapat dihubungi melalui Instagram: @tyfelixs_ serta Youtube: @TimothyYanFelixSitorus

    Simfoni Jalan Pulang

    sejauh sajak
    membawaku dalam kata taat
    di atas ijab perjanjian
    satukan dua telapak yang berdetak
    putuskan penantian adalah jalan pulang yang kunotahkan

    halaman itu masih pagi
    dari halimun manja yang belajar berdiri
    tiup lembut kekosongan sebelum fajar berpijar di ufuk mekar
    sambut megahnya rona
    dari harap-harap petualangan ganda

    namun,
    onak kadang berai langkah usang
    patahkan jembatan jejak
    tusuk daging atas tapak letak
    lumpuhkan derap pelarian 
    samarkan penglihatan dari sesat tanpa kompas map
    kadang rutuk jadi mantra paling celetuk
    di lain waktu amarah membakar sabar yang sekadar

    lintasan pelajaran hidup
    berpelukan erat ingin dipujuk
    jangan lagi ingkar
    tak ada lagi mungkar
    sebaik-baik kembali 
    adalah melepas dengan ikhlas
    buang kengerian balas dendam 
    yang hanya memadamkan cahaya iman

    Rantauprapat, 28 Februari 2026

    Janji Iblis yang Patah Hati

    terkisah bumi mungil beranak dari langit
    ledakan-ledakan kehidupan disuguh dalam detak yang mendarah
    Tuhan titahkan Adam 
    jadi pemegang saham

    iblis meradang
    meringis merasa dicampakkan
    dipecat jadi kaki tangan paling kanan
    patah hati yang paling ngeri
    dimakan kesombongan 
    merasa dikucilkan

    jalan kiri dari simpang pengusiran
    ada dendam cinta yang haus diikrarkan 
    ia beranak jadi api-api kesumat 
    atas sejengkal alir darah titis di umat

    sampai kiamat 
    tak kubiarkan anak cucumu khidmat 
    dalam kata selamat

    aku takkan memuja maaf
    biar habis neraka kusergap; 
    kusembur warisan tengil 
    untuk karyawan perusahaan iman karatan

    Rantauprapat, 20 Februari 2026

    Yenni Reslaini, lahir pada 14 Juni 1990 di Marbau, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara. Bergabung dengan forum kepenulisan FLP Labuhanbatu pada 2015. Menulis enam buku solo, termasuk dua novel: Takdir Ilalang (2020, Penerbit Ahsyara) dan Mak, Yak Aku Pulang (2024. Kumpulan puisi Membatas Luka Mengikat Lara (Desember 2023). Kumpulan cerpen Kita, Chapter-chapter Bisu dalam Buku Tabu (2024). Buku kumpulan senandika Monolog Kura-kura (2024). Dan kumpulan puisi Sebab Warna Jatuh di Senja. Ia juga mengikuti kelas puisi di Asqa Imagination School (AIS). Juara 1 di ABA XXI, ajang pencarian Duta Baca Online yang diselenggarakan oleh Muhammad Asqalani eNeSTe dan disponsori oleh Asqa Imagination School (AIS). Fasilitator di SDIT Alam Arrozaq Rantauprapat. Contact via Gmail: yennireslainiritonga@gmail.com atau cek sosmed di Facebook: Yenni Reslaini Ritonga, Instagram: @Meoxij, WA: 082231819632.

    Muara Sunyi

    Sungai, mengajarkan kehidupan yang bergerak mengalir dari masa lalu dan masa depan
    Sungai, mengajarkan kehidupan yang tak menyerah dan bertujuan
    Sungai, mengajarkan silaturahim, saling terhubung, terjalin persaudaraan
    Sungai, mengajarkan kegigihan dari bebatuan kehidupan, tak lelah alam yang menggarang, hujan dan angin kencang tak membatasi capaian
    Sungai, mengajarkan kelembutan, keindahan dan kemanfaatan tempat berkelangsungan 
    Namun, ia terlupakan
    Ia harus menampung segala kebiadaban
    Ia harus menanggung segala kebusukan
    Ia harus memikul dosa-dosa bani adam

    Sungai, telah mengering pada aliran darah insan

    Pekanbaru, 3 Maret 2026

    Praja

    Pepohonan rindang berubah gedung menjulang
    Tanah-tanah lembab berganti aspal keras
    Hewan-hewan bebas terperangkap
    Sungai-sungai bening menjadi besing
    Ladang-ladang hijau gersang
    Kesejukan direbut kepanasan
    Keheningan dibunuh kebisingan
    Kesunyian menjelma keramaian
    Ketenangan ditikam kepikukan

    Mereka yang kehilangan garapan menjadi kuli
    Mencukupi anak istri bersaing tak henti
    Kalah kemampuan diri bersiap tertindih

    Kota biarlah kota
    Desa tetaplah desa
    Ada rindu dari kota ke desa menenangkan jiwa
    Ada hasrat ke kota mencuci mata
    Keseimbangan jangan dikerat

    Pekanbaru, 3 Maret 2026

    Sausan Al Ward. Berdomisili di Pekanbaru. Dapat dihubungi pada IG: @sausan_al_ward serta email sausanalward55@gmail.com. Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025. Juara I lomba cerpen Penerbit Kertas Sentuh (2021). Terbaik II Apresiasi Cerpen Riau Sastra Festival (2023). Juara II Lomba Cerpen Penerbit Prospec Media (2021). Pemenang 3 lomba Cerpen Sastravaganza Tempo Institute (2024). Juara III lomba Cerpen tingkat Nasional Penerbit Media Lintas Pustaka (2023). Juara III Lomba Dongeng Tianisa Bookstore (2021). Juara Harapan I Lomba Cerpen The Journalist Publishing (2021). 15 besar penulis terpilih penulisan esai Inkubator Literasi Pustaka Nasional Tk Provinsi Riau (2023). Puisi terpilih Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi (2024). Lolos kurasi Sastra Serumpun (2025), Lolos kurasi cipta puisi ASEAN (2024). Lolos kurasi puisi tema Bencana Komunitas Kuflet dan Majalah Elipsis (2024 dan 2025), Lolos kurasi puisi Si Binatang Jalang Hari Puisi Nasional (2025), lolos kurasi puisi Buitenzorg Dewan Kesenian Bogor (2025) serta kurasi puisi lainnya. MC Pemerintahan dan pernah menjadi presenter TV lokal, juara II lomba Pembawa Acara Antar Instansi Provinsi Balai Bahasa Provinsi Riau (2014).

    Avontur Cincin Inti

    di subuh:
    lembah shire hijau berembun pagi
    bilbo memungut dari cakar gollum lengah kelam 
    cincin emas berapi bagai langit pagi yang rapuh
    kegelapan rasuki jiwa;
    "pakai aku"
    tapi seberat kutukan purba

    di siang menuju sore:
    menuju mount doom, frodo goyah di bayang bengis 
    sam menopang bagai angin menyangga daun gugur rapuh
    gollum seperti lintah merayap haus 
    didera sendu yang lelah 
    semua terseok

    di nyaris malam tanpa bintang:
    lava mengamuk, cincin luruh ke perut bumi!
    middle-earth terbit kembali
    hobbit harumkan shire
    cincin kelam telah sirna

    di pagi yang baru:
    ada yang terus menggema dari sisa sisa luka 
    tak pernah sembuh
    tak lagi utuh
    epik; "baca lagi, bukan puisi! cincin rahasia memanggilmu"

    Padang, 26 Februari 2026

    Pesan di Botol Waktu

    di pesisir waktu abu abu
    kutulis pesan ini pada Bob
    dalam botol kaca berhati merah
    asa akan tiba di jemari putihmu
    walau sangat kecil terjadi
    rahasia cinta kita

    di gulungan surat ini
    aku lepaskan rindu melawan larangan
    tutup botol menjaga janji rapuh 
    seperti iman kita yang bertaut pelan
    aku dari masjid senja, kau dari gereja fajar
    beda frekuensi dalam satu detak jantung

    siapa pun buka botol ini
    pesan kita terapung
    lawan badai keyakinan
    sampaikan lirihku pada bob;

    dari aku yang terbelah
    cinta tak butuh restu dunia
    kita adalah lautan yang berpagutan
    selamanya dalam botol waktu

    Padang, 20 Februari 2026

    Esti Rahayu Utami lahir di Bandung, 26/10/1977. Lulusan Sekolah Tinggi Hukum Bandung 1999 dan University of People Friendship, Moscow 2004. Ia sudah melahirkan 4 buku solo dan 1 novelet kolaborasi 

    Puisi dan cerpennya dimuat di berbagai media cetak dan online; tirastime.com, kasatmata.com, dermagasastra.com,
    sepenuhnya.com, lorongkata.com,
    faktakepri.com, ompi-ompi.com, balipolitika.com,
    penaterbang.com,
    ranahriau.com, ngewiyak.com, 
    majalah Al-Qomar, IG: Competer_Indonesia, KKR Bali, Asqa Imagination School, Ruang Kata dll.

    Puisi terpilih event Apajake tema Stoa
    Puisi terpilih event Elipsis, Seni Kuplet dan Pemerintah Padang Panjang, tema: Puisi Cinta Palestina
    Puisi terpilih event Bung Hatta, Labuhan Batu, tema: anti korupsi.
    Puisi terpilih event KSS3G, tema: kopi dan gunung
    Puisi terpilih jurnal puisi cinta volume 4.
    Puisi terpilih event Tulis.me, Juni 2024
    Puisi terpilih event Kuflet dan Elipsis tema: bencana.
    Puisi terpilih event Competer Indonesia tema: rempah-rempah

    Ia pernah menjuarai Asqa Book Award XVI sekaligus menjadi pemenang favorit 1. Juara Harapan 2 dan juara favorit 1 di ajang Anugerah COMPETER Indonesia  2024. Saat ini menjadi 30 besar Anugerah COMPETER Indonesia 2025. Anda bisa menghubunginya di IG: @estirutami

    Kafka Dalam Memori

    sebut saja aku kumbang. hinggap pada batang
    pohon pinang. mencarimu dengan harap mekar mawar.
    namun apakah dapat dikira dari jenuh masa yang 
    runut itu.

    sebut saja aku belalang. lompat kian lompat dari
    rerumputan hijau itu. sedepa dari dudukmu.
    melihat ranum mukamu yang semerbak mekar mawar.
    sebening pualam kulit mangga.

    sebut saja aku coro. merayap senyap tengah malam
    ke pucuk lelapmu. sunyi menyentuh tubuh ini lebih
    gema daripada ribut hutan. demi melihatmu mekar
    kembang sangsi, aku tak peduli.

    Selatpanjang, 2026


    Kota yang Lumpuh Bersama Kami

    aku besama kalian di sini. menghirup bau petasan.
    atau apapun hiruk-pikuk teriakan. gedung itu masih
    angkuh menyimpan luka-duka kami. merubungnya
    bukan untuk mengambil, namun menyemai harap
    yang lenyap.

    aku bersama kalian. merayap, menyusup, menggerak
    ke tiap celah peluang. melempar harap ke celah-celah
    ventilasinya. menyerap gema walau lenyap bersangsi. 
    menduga-duga apakah telinga mereka tuli atau normal 
    kembali.

    Selatpanjang, 2026

    Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 19 Mei. Alumnus Prodi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau. Bukunya antara lain: Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen, 2015), Mata Kaca (cerpen, 2017), Menuju ke Arus Sastra (esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (nonfiksi, 2019), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen, 2020), Amuk Selat (puisi, 2020), Menjaring Kata Menyelam Makna (esai, 2021), Jelatik (novel, 2023). Bekerja sebagai pendidik di Selatpanjang, Riau.

    Perokok Dini dan Abad Tumbang

    Asap tipis itu lebih tua dari kaus kakinya,
    lebih teguh dari janji di buku tulis.
    Tangan dua belas tahun
    membakar rontokan harapan.

    Di ruang BK, kepala sekolah menampar sebuah kehancuran
    tangan ayam goreng bertemu pipi pubertas.
    Guru menangisi tabel periodik
    yang bubar dalam karbon monoksida.

    Kelas lima SD sudah mengenal nikotin
    sebelum mengenal Najwa Shihab.
    Masa depan menyusut seperti puntung
    di sela jari yang belum layak memegang hak pilih.

    Di sini, paru-paru bersekolah lebih cepat dari pikiran.
    Bronkiolus mencatat pelajaran pertama
    bahwa dewasa adalah nama lain
    untuk membara dalam diam.

    Pagar sekolah berkarat oleh larangan.
    UU No. 36 menggantung seperti seragam
    yang terlalu longgar untuk tubuh-tubuh
    yang dikubur dalam seragam sendiri.

    Wali kelas mengajar hukum Archimedes
    sementara murid-muridnya tenggelam
    dalam kepulan yang lebih patuh
    daripada rumus matematika.

    Indonesia menua dalam sembilan detik.
    Setiap hisapan adalah pemakaman kecil
    untuk fokus yang tersesat di antara awan,
    untuk bola basket di gudang
    yang lupa cara memantul.

    Ayah-ibu rapat membahas ranking,
    tidak melihat asap yang merayap
    dari celah pintu kamar
    laksana kabut pembawa kabar
    kelak akan ada pemakaman yang lebih luas
    daripada upacara bendera.

    Februari 2026

    Ode untuk Burasa

    Di sana, di dapur yang ramai oleh kenangan,
    sebuah narasi teruleni dalam adonan.
    Tepung beras, santan, dan gula merah
    berbisik resep zaman
    “Rasa ini adalah arsip, tanah yang dibawa merantau,
    kuali yang menjadi kompas.”

    Leluhur kita tahu, kelaparan tak hanya soal perut,
    tapi juga jiwa yang merinduhkan bentuk.
    Maka mereka membungkus pulung dalam daun pisang,
    mengikatnya rapat dengan tali dari janji
    bahwa di mana pun perahu singgah,
    akan ada gumpalan kecil rumah yang menanti dibuka.

    Setiap bungkus adalah kapsul waktu,
    setiap kunyahan adalah penguburan rindu.
    Ketika lidah menyentuh gula merah yang lumer,
    bukan cuma manis yang merayap di langit-langit mulut,
    tapi juga jejak kaki di tanah basah,
    percakapan di beranda sore,
    dan doa-doa sebelum berlayar.

    Burasa bukan sekadar santapan,
    ia adalah upacara kecil untuk mengingat
    bahwa kita boleh mengarungi tujuh samudera,
    asalkan tidak melupakan cara membungkus bulan
    dalam daun pisang, dan menyebutnya “pulang”.

    Februari 2026

    Gita Nur Febriani. Penulis asal Bontojai yang sejak 2023 menjadikan menulis sebagai praktik kejujuran batin. Baginya, kata bukan sekadar alat ekspresi, melainkan ruang hidup untuk merekam kebenaran secara sederhana dan jujur.

    Karyanya terhimpun dalam 215 buku antologi bersama puluhan komunitas literasi serta empat buku solo. Ia kerap menjadi finalis favorit dewan juri dan meraih sejumlah penghargaan literasi.

    Pada tahun 2025 bergabung di COMPETER Indonesia (CI), Gita tercatat sebagai peserta yang lolos 10 Besar Anugerah COMPETER Indonesia (ACI) 2026, sebuah ajang sastra nasional. 

    Gita bisa disapa di Instagram: @git.a2000

    ANXIETY PRASEJARAH

    ibu meracik racun
           dari tetes keringat ayah yang tak ingat
           nama-nama anaknya
    ditaburi segenggam asam manis hari-hari panjang
           yang liat tak terkunyah

    digantangnya butiran dosa di dalam kuali
          seraya menunggu hujan
          barangkali lebatnya akan melarutkan
          atau derasnya menenggelamkan

    kami menanti dengan nganga selebar tubuh singa
    dan perut sehampa semesta yang baru tercipta
            sebelum semua planet ada

    --Jakarta 08022026

    HEY, YOU’VE GOT MAIL!

    tahun lalu, di dalam inbox email sesunyi pesta rakyat di negeri diktator, tak kutemukan good news pelipur duka. hanya pamflet-pamflet kotor tentang kejayaan sawit di lahan yang ditraktor, dan eksploitasi tambang-tambang dengan backsound raung eskavator.

    tapi tahun ini, masuk sebuah pesan; hampa tulisan serupa laut tanpa ombak, cuma ada sebuah thumbnail melambai-lambai bagai seekor kerapu riang yang sengaja minta dikail. kuklik penuh kecemasan seolah disebut namaku dalam Epstein file.

    isinya hanya sebait ramalan nasib paling rungkad di negeri yang seluruh isunya belum terungkap. tentang prediksi cuaca bahwa hujan tangis akan datang membawa badai kekecewaan, silih berganti bersama kemarau keadilan yang mulai melanda.

    aku belum selesai membaca saat koneksi terputus. pembuluh kuotaku terpotong, diamputasi pisau efisiensi MBG. wifi-ku mati terbunuh, arwahnya penasaran bergentayangan. 

    --Jakarta 15022026

    Said Kusuma, seorang pecinta sekaligus praktisi seni. Juara 3 Akademi Competer Indonesia 2023, Juara 1 Grup Puisi Om Dedi (FB Mei 2024) & Juara 1 even lomba puisi Gambar Bercerita (IG Des 2025) ini dapat dijumpai karya-karyanya di akun instagram @said_serigalla dan @gelometris. Belajar di Competer Indonesia, AIS, Kelas Puisi Bekasi, HUMA & Ruang Kata.
    Postingan Lama Beranda

    ABOUT US

     



    Platform berisi puisi, quote, buku, dan berita sastra yang diprakarsai oleh Muhammad Asqalani eNeSTe, Eko Ragil Ar-rahman & Cindy Neo.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • Puisi-Puisi Esti Rusia
    • Puisi-Puisi Sausan Al Ward
    • Puisi-puisi Adnan Guntur
    • Puisi-Puisi Galuh Duti
    • Puisi-Puisi Riki Utomi
    • Puisi-Puisi SaidK
    • Puisi-Puisi Yenni Reslaini
    • Puisi-puisi Timothy Yan Felix Sitorus
    • Puisi-Puisi Gita Nur Febriani
    • Puisi-Puisi Apriansyah Sang Puisi

    Categories

    • Puisi 19
    • quote 4
    • sastra 20
    • Sastra 2
    • Tentang Kami 1
    • tulisan 1

    Advertisement

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    ENESTE.ID



     

    Copyright © ENESTE.ID. Designed by OddThemes