ENESTE.ID
  • Home
  • Tentang Kami
  • Puisi
  • Buku
  • Quote
  • Berita Sastra
  • TBM Cahaya Rumah
    • Literasi Sekolah
      • TK
      • SD
      • SMP
      • SMA
      • KAMPUS
    • Lomba
  • Contact Us
  • Puisi

    Buku

    Berita Sastra


    Lingkaran di Atas Mahkota
    Oleh: Setiabasa

    Di Marseille, janji pernah mekar
    sebelum ambisi membakar peta dan nalar
    Ia lepaskan jemari tulus
    demi mahkota berkilau
    Namun sejarah bukan garis lurus—
    ia lingkaran diam
    yang tak pernah lupa

    Désirée Clary,
    namamu tinggal rindu yang dilipat sunyi,
    ketika seorang Napoleon Bonaparte memilih matahari—

    Kau berjalan di atas luka,
    hingga tiba di utara—
    di pelukan yang tak menakar cinta dengan pedang
    Dan takdir, tanpa suara,
    menyulammu menjadi lebih dari yang hilang

    Sementara ia
    mengejar dunia sampai ke ujung batas
    dan akhirnya terkunci dalam pengasingan
    Singgasananya runtuh tanpa perang,
    namanya tinggal gema
    yang perlahan memudar

    Dan kau—
    yang pernah dibuang seperti catatan kaki,
    duduk di takhta tak tergoyahkan hingga kini
    Bukan dendam yang kau simpan
    melainkan tenang tak terperi

    Roda berputar—diam namun pasti:
    siapa meninggalkan cinta
    akan kehilangan dirinya sendiri—
    dan kadang dunia menyebutnya kemenangan

    Tapi yang bertahan dalam sunyi
    tak perlu menjatuhkan siapa pun
    untuk tetap berdiri

    Rintis, 6 Mei 2026

    Interval di Ujung Kota
    Oleh: Setiabasa 

    Di perhentian ini,
    waktu melambat—
    seolah jarum jam
    kehabisan alasan untuk berputar
    Hanya ada aku,
    bayang papan rute,
    dan angka-angka merah
    membeku seperti luka kecil di dinding sore

    Aku tertahan
    dalam jeda yang dipaksakan

    Buku tertinggal
    jadi ruang kosong di tangan,
    dan informasi keliru
    terus berdetak di kepala
    seperti pengumuman rusak,
    diulang tanpa henti
    Kesal menumpuk perlahan,
    tipis seperti debu tua
    di bangku halte
    terlalu lama menunggu disentuh

    Kenapa aku begitu mudah percaya
    pada arahan keliru?
    Kenapa hari ini
    kutinggalkan satu-satunya teman
    yang mampu jinakkan waktu?
    Namun angin sore datang
    tanpa membela siapa pun
    Ia membawa bau tanah,
    rumput,
    dan kebebasan liar dari padang luas

    Di seberang sana,
    dunia tetap hidup dengan tenangnya sendiri

    Sapi-sapi mengunyah cahaya senja
    di padang rumput basah,
    seolah tak ada yang perlu dikejar
    selain kenyang dan angin
    Angsa-angsa putih
    mengiris permukaan kolam
    dengan gerak nyaris tak bersuara

    Di atas rumput,
    anak-anak berlari mengejar bola
    dan bayang mereka sendiri
    Layang-layang bergetar di langit sore,
    sementara tawa kecil pecah begitu ringan,
    seolah belum pernah mengenal
    jam, kehilangan, atau keterlambatan

    Jauh di halaman rumah,
    seorang ibu menggantung pakaian,
    berkibar seperti doa sederhana
    di bawah langit biru
    yang bersih dari niat buruk hujan

    Sedikit demi sedikit,
    amarah itu luruh
    bersama matahari tenggelam perlahan
    di bahu kota

    Lalu suara mesin terdengar—
    kasar,
    nyata,
    membelah hening di sampingku.
    Sebuah bus datang
    dengan lampu redup,
    seperti mata lelah
    tapi masih tahu jalan pulang

    Aku menarik napas panjang,
    menelan sisa kecewa,
    membiar jeda ini selesai
    tanpa kemenangan

    Rintis, 7 Mei 2026

    Setiabasa, seorang ibu rumah tangga, ibu dua orang putra dan nenek sepasang cucu. Menyukai membaca sejak kecil. Fiksi, non-fiksi dan juga puisi. Sejak akhir 2022 mengikuti beberapa kelas online (Uti, AIS, Ruang Kata, Symprerifora dll) untuk belajar menulis puisi dan karyanya sudah masuk dalam beberapa buku antologi puisi.
    Ia sedang mengikuti kelas puisi AIS#68. IG: @setia.xu

    RUMAH KITA
    Oleh: Grace Gultom

    Kita tidak menumpuk batu,
    Kita menulis dunia dari dekat.
    Suara ragu,
    kalimat tertinggal,
    kita pulangkan agar tak lagi sendiri.

    Di sini, buku tak pernah benar-benar tertutup.
    Jejak dibaca, ditanggapi,
    kadang pula dikoreksi tanpa banyak suara,
    Dan kembali lebih utuh.

    Pena bukan untuk melukai,
    ia memperbaiki.
    Menahan yang hampir runtuh,
    seperti cara kita menjaga.

    Merpati kita lepas berulang kali.
    Menerbangkan nama,
    bukan untuk meninggi sendiri,
    melainkan agar kebaikan punya arah.

    Kita tak selalu serentak.
    Ada yang datang terlambat, ada yang lama diam,
    namun tak pernah benar-benar asing.
    Sebab yang kita rawat bukan hadir,
    melainkan keterhubungan.

    Kini satu dan empat berdampingan,
    bukti dari yang kita jaga bersama,
    tak mudah hilang.

    Kita memastikan
    kata-kata punya tempat hidup,
    lalu manusia tak kehilangan jalan pulang.

    Jambi, 23 April 2026

    Grace Gultom adalah penulis puisi pemula asal Jambi. Ia menulis sebagai cara menyimpan perasaan, pengalaman, dan peristiwa kesehariannya. Menulis baginya bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk terus belajar dan bersuara. Temukan karya-karyanya dalam Instagram: @nurel.gultom

    ==================================

    Merayakan Kepak Sayap
    Oleh: Dian Riasari

    Malam ini aku merindu sosok remaja itu
    yang kini melangitkan bendera 14 tahun
    di dadamu, aku pernah tersedu
    di pundakmu, kugantungkan asaku
    di hari paling muskil, kau genggam hatiku

    Tak jarang, kutinggalkan kau di sudut kota
    namun selalu kudapati, kau tengah daki gunung tinggi
    sedang aku, menanti benih perdu yang kau bawa
    dari bukit-bukit terjal

    Lenganmu tak pernah lelah merengkuh banyak pundak
    lalu berderap bersama ke puncak
    dari jemarimu, mengalir larik-larik cerita
    terbentang ke segala penjuru mata angin

    Kita tak selalu bertatap mata
    namun ada yang tumbuh bersama, yaitu sayap-sayap tabah
    terjelma dari tinta jiwa
    Jika kepak sayapku tak mampu menembus langit biru,
    kuharap kau tetap dampingi aku
    untuk menulis dunia, menerbangkan nama, kebaikan tujuan utama.(*)

    Malang, 23 April 2026

    (*): semboyan Community Pena Terbang (COMPETER) Indonesia.

    Dian Riasari, pegiat literasi dari Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada 40 lebih buku antologi (cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, dan puisi) serta satu buku solo. Beberapa karya puisinya dimuat di media online dan cetak, seperti: Harian Bhirawa, Tiras Times, Bambang Kariyawan.com, Ngewiyak, Riau Sastra, Negeri Kertas, Jurnal Tinta, Dermaga Sastra, Kabaran.id, Ranah Riau, Laman Riau, Jurnal Puisi Cinta. Bergabung di komunitas Alumni Asqa Imagination School (AIS), Community Pena Terbang (COMPETER), dan Ruang Kata. IG: @dian_de_lala. FB: Dian Riasari.

    ==================================

    ELEGI GERBONG EMPAT BELAS
    Oleh: Pramesetya Aniendita

    Pada gerbong renta empat belas musim
    kami menumpangkan lelah pada bangkunya
    lajunya membawa angin dan tawa singgah
    meninggalkan peron tuk setia menanti.
    
    Di lorong sempit langkah pernah tersayat
    oleh duri perjalanan yang tak selalu tampak
    dari luka kecil kami mengeja sabar
    menyulam kembali aksara yang hampir tercerai.

    Gerbong jadi ruang singgah sebelum pulang
     tempat kata-kata duduk tanpa sekat
     di bangkunya aksara tumbuh perlahan
     menjadi pelukan bagi hati yang penat.

    Gerbong empat belas itu terus melaju
    kini makin penuh penumpang
     dindingnya dijaga harapan yang panjang
     hingga tak ada sunyi yang dibiarkan sendiri.

    Teluk, 25 April 2026

    Pramesetya Aniendita, atau yang akrab disapa Dita, merupakan 10 besar Duta Anugerah Competer Indonesia 2026. Ia kerap menjuarai lomba puisi, antara lain Juara 3 Lomba Puisi SIP Publishing bersama Nana Sastrawan (2024), Juara 2 AIS (2025), serta Juara 1 Event Senandika bersama Tuang Aksara (2026), dan berbagai kompetisi literasi lainnya. Dita juga produktif berkarya. Ia telah menelurkan 12 buku solo serta berkontribusi lebih dari 100 buku antologi. Karya-karyanya pun telah terpublikasi di berbagai media online. Yuk, kenal lebih dekat dengan Dita melalui Instagram @book.wormholic.

    Konvergensi dalam Tubuh Aksara
    Oleh: Sekar Hartono

    Di ruang tanpa koordinat,
    awalnya kita hanyalah serpihan 
    yang tak diakui langit tanpa nama,
    aksara yang tersesat dari rahim makna.

    Kau bukan sekadar suara,
    melainkan pantul dari sesama,
    yang menelisik retakku sendiri.

    Kita saling menyalin detak,
    menyulam luka,
    menjadi ruang teduh bagi kata.

    Tak ada aku yang utuh,
    tak ada jarak yang tersisa,
    hanya tubuh aksara yang dirawat bersama.

    Empat belas tahun saling menjaga,
    bertarung di medan aksara, 
    hingga menjadi simpul-simpul tafsir.

    Competer, nama yang kita sematkan pada perjalanan yang tak rampung.

    Dan bila kelak,
    nama-nama kita luruh dari ingatan dunia,
    biarlah yang tertinggal  bukan rupa,
    melainkan tapak sunyi 
    yang kita torehkan bersama, 
    mengendap,
    tak tercerai
    di tubuh aksara yang enggan gugur.

    Purwokerto, 23 April 2026

    Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394

    =================================

    Foniks Hijau yang Terbang di Samudera Rasa
    Oleh: St. Alifatul Luthfiyah

    bukanlah sekadar cerita lalu;
    satu batu
    yang dipegang dua burung
    iqra' pada punggung yang satu
    punggung kedua dilimbur wal qalami wa maa yasthurūn

    hujan-kemarau, kemarau-hujan diterabas
    satu-dua hingga empat belas warna langit
    t'lah direkam oleh empat anak mata

    kadang terbang;
    mengalun remah di atas air
    menukik di titik nadir, lalu
    mendugas di pucuk lazuardi

    burung-burung yang lahir dari gua garba
    sepasang iqra' dan wal qalami wa maa yasthurun
    terbang
    meninggalkan segala rikuh
    mengepakkan sayap satu-satu
    sambil dirawatnya batu
    yang sedikit rengkah
    tertampar puting beliung
    lepas hingga tubir relung jantung
    dan terbang melesat
    melewati pucuk-pucuk asa
    hingga berabad-abad
    abadan, abadan
    abadi

    Gresik, 25 April 2026

    St. Alifatul Luthfiyah. Penulis pemula yang lahir kembali dari jatuh bangun di dunia literasi. Mengupgrade diri di COMPETER Indonesia, Asqa Imagination School, Kelas Puisi Alit dan kelas kepenulisan lain yang berfokus pada sastra, khususnya puisi. Pernah menjadi 1st Winner Festival Menulis Cerpen Jatim 2010, 2nd Runner Up Anugerah COMPETER Indonesia 2025 dan 1st Winner Asqa Book Award XXV. Puisinya ditayangkan di berbagai platform online dan dimuat di antologi bersama. Silakan kunjungi IG: @alifa_56 dan karyaalifa.blogspot.com untuk korespondensi.

    Isotop Atma
    Oleh: Amalia Ramadanti

    Empat belas kali semesta berotasi, kita tetaplah partikel anindita yang menenun membran aksara,
    Melampaui siklus peluruhan kala, tempat tiap luka melumat menjadi cahaya di rahim niskala,
    Di sini, usia bukan sekadar deret angka, melainkan resonansi panjang yang menjinakkan kosmos gila,
    Hingga sunyi tak lagi menjajah jiwa, sebab frekuensi kita telah mengkristal dalam satu rupa.

    Kita biakkan isotop kata agar pijar empat belas musim tak pernah bungkam dalam kelam,
    Menjerat jalinan nyawa dalam gravitasi kasih yang kian tajam di kedalaman kosong paling dalam,
    Di altar suci ini, kita pahat prasasti kebersamaan yang mengharamkan segala bentuk mati,
    Membangun keabadian dalam orkestra semesta dan bejana kata yang takkan pernah bertepi.

    April 25.26, Daksina

    Amalia Ramadanti, lahir di Pemalang, 15 Januari 1998. Di sela perannya sebagai ibu rumah tangga, ia menemukan ruang luas untuk bereksplorasi melalui kata-kata sebagai bentuk refleksi dan apresiasi terhadap kehidupan. Menulis baginya adalah jembatan untuk menyuarakan rasa yang sering kali luput dari lisan.
    Dedikasinya dalam dunia literasi telah membuahkan berbagai apresiasi, di antaranya sebagai Juara II LCP Tema Cinta bersama Asqa Imagination School, Juara III di Puspamala Pustaka melalui karya Dekat Tanpa Lekat, serta terpilih dalam jajaran 30 Besar LCP Tema Ayah bersama Helvy Tiana Rosa (SIP Publishing).
    Karya-karyanya juga telah menghuni berbagai antologi seperti Suara Serumpun Anyaman Rasa, Rintikkata, Sahabat Sepanjang Masa, hingga Lentera di Bulan Suci dan puluhan buku antologi lainnya. Selain buku, tulisan-tulisannya sempat menghiasi media daring termasuk Tirastimes, Sepenuhnya.com, Asqa Imagination School, dan RanahRiau.
    Saat ini, ia terus mempertajam intuisi puitisnya bersama komunitas Community Pena Terbang (COMPETER) Indonesia dan kelas puisi Asqa Imagination School. Melalui setiap baris kalimatnya, ia berupaya menangkap suara-suara kecil dari keseharian untuk dijadikan jejak makna yang abadi.
    Temui jejak karyanya di Instagram: @aamaiyaaaa

    ==================================

    Kita Akhirnya Sampai
    Oleh: Faziellah Yusuf Z

    Temanku,
    kita pernah menjadi huruf-huruf
    yang gugur dari doa yang salah alamat.

    tidak ada yang lahir tanpa perlawanan,
    tidak ada yang utuh tanpa sesuatu yang pernah pecah.

    pernah suatu waktu
    kita menjahit mulut sendiri dengan sunyi—
    tapi jahitan itu berubah
    menjadi racun di kepala kita masing-masing.

    lalu kita bertemu.

    bukan sebagai nama,
    tapi sebagai luka yang saling mengenali.

    kita duduk,
    menumpahkan isi kepala seperti pecahan kaca,
    lalu menyusunnya kembali
    menjadi kalimat
    agar kita tidak hilang sepenuhnya.

    aku pejalan yang hampir kehilangan arah.
    kau juga, kan?

    kita berdarah-darah, iya.
    tapi tidak berhenti.

    bukan karena kuat—
    tapi karena akhirnya
    kita tidak sendirian.

    hari ini kita rayakan:

    bukan sembuh,
    bukan selesai—

    tapi karena luka itu
    akhirnya punya tempat tinggal.

    dan kita menamainya:
    kita.

    2026

    Faziellah Yusuf Z (Zuhdy) adalah penulis reflektif yang mengekspresikan luka, pemulihan, dan makna hidup melalui karya. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan proses memahami diri dan berdamai dengan realitas. Aktif berkarya di berbagai platform digital, ia telah berkontribusi dalam 35 antologi dan menerbitkan 1 karya solo. 

    Tulisan-tulisannya lahir dari pengalaman batin yang jujur, menghadirkan kedalaman rasa yang dekat dengan kehidupan banyak orang. Penulis dapat disapa di sosial media @faziellah_yusuf.

    =================================

    Aventurir Menepi di Competer
    Oleh: Esti Rusia

    aku; aventurir di lautan feed tak bertepi
    letih scroll lintas benua virtual yang kelam
    bagai hembus angin 
    uji denyut nadi di tengah perdebatan teori yang usang

    samudra algoritma teori puisi 
    gelombang emoji dan thread tak berujung 
    aku termanggu
    menahan haus connect yang real
    bola mata letih merindu bait viral yang glow up

    kapalku karam! 

    menepi di rumah competer 
    tanpa aesthetic lebay
    hanya bait bait menyala lembut
    ia, sunset di playlist
    bloom asa tak terhenti 

    pelukan metafora hangat
    competer seolah whisper
    pada seorang aventurir 
    tanpa kapal
    'you are home'
    aku dibuai love language paling tulus
    dalam rima tarian pena terbang 
    kita, co-create puisi selamanya!

    Padang, 26 April 2026

    Esti Rahayu Utami lahir di Bandung, 26/10/1977. Lulusan University of People Friendship, Moscow 2004. Sehari-hari ia bekerja sebagai freelancer dalam berbagai bidang. Dalam dunia penulisan, ia lulusan Komunitas Menulis Online (KMO) Batch 49. Aktif belajar berkarya di Asqa Imagination School (AIS), Ruang Kata dan tergabung di komunitas Competer Indonesia. 

    Ia sudah melahirkan 6 buku solo dan 1 Buku Solo Puisi. Puisi dan cerpennya dimuat di berbagai media cetak dan online; Tirastime.com, kasatmata.com, dermagasastra.com,
    sepenuhnya.com, lorongkata.com,
    faktakepri.com, ompi-ompi.com, 
    balipolitika.com,
    majalahelipsis.com, ranahriau.com,
    selaswara.com,
    ngewiyak.com,
    majalah Al-Qomar, IG: Competer_Indonesia, KKR Bali, Ruang Kata dll.

    Puisi terpilih event Apajake tema Stoa
    Puisi terpilih event Elipsis, Seni Kuplet dan Pemerintah Padang Panjang, tema: Puisi Cinta Palestina
    Puisi terpilih event Bung Hatta, Labuhan Batu, tema: anti korupsi.
    Puisi terpilih jurnal puisi cinta volume 4.
    Share puisi-puisi Bali Politika 2024

    Ia pernah menjuarai Asqa Book Award XVI sekaligus menjadi pemenang favorit 1. Juara Harapan 2 dan juara favorit 1 di ajang Anugerah COMPETER Indonesia 2024. Anda bisa menghubunginya di IG: @estirutami

    Yang Berkelindan
    Oleh: Galuh Duti

    sebuah bangunan berusia empat belas tahun
    kusebut rumah, karena saat lelah banyak ruang untuk rebah
    ini rumah, karena sejauh mana siapa pergi pasti kembali

    jendelanya besar, udara dan tawa masuk 
    pada dada yang senang dan makin lapang 
    halamannya luas, biarkan kaki kami berlari
    sesekali terkena duri, tapi kami diajari
    bagaimana mencabut dan membalut luka dengan rapi

    begitulah rumah, tempat hangat sebelum pelukan
    tempat melabuhkan mimpi puisi dan jadi diri sendiri

    bangunan berusia empat belas tahun itu
    kini makin banyak penghuni
    dindingnya dipelihara oleh cinta tak berkesudahan
    tak ada sesuap diksi yang tak dapat dibagikan
    karena dibangun oleh riuh harapan 
    dan rapal-rapal syair berkelindan

    Malang, 25 April 2026

    Galuh Duti. Perempuan kelahiran Surabaya ini serius menulis mulai tahun 2022. Baginya, menulis puisi selain hobi juga menjadi jalan untuk bahagia. Novela perdananya berjudul Melukis Wajah. Peraih Top 2 Asqa Book Award XXV. Puisi-puisinya dimuat di beberapa media. 
    Untuk menjadikan jejak tulisannya, dia menulis di beberapa antologi puisi. Pembaca dapat  lebih dekat dengan penulis melalui IG @galuhduti FB: Galuh Duti.

    ==================================

    Konstelasi Tinta
    Oleh: Kairan Hanafi

    Ingatkah saat puisi masih menjadi janin di kepalamu, Tuan?
    Saat diksi masih merangkak, tidak berdiri di atas lisan
    Saat metafora tidur di ujung hujan, takut dibasahi
    Saat pena hanya seonggok mayat di atas meja yang berdebu
    Dan hati hanya menjadi arwah terselimut dinginnya sunyi

    Sadarkah engkau, Tuan?
    Kita di sini, bawa luka sendiri-sendiri seperti kertas kosong yang alergi rima
    Kata-kata itu lahir dari hangatnya air mata
    Dijamah oleh retina yang menjelma konstelasi tinta
    Lalu kalimat itu belajar berjalan di baris-baris yang pincang

    Empat belas kali badai memukuli kita, Tuan
    Ada malam yang menyaksikan penguburan emosi
    Ada senja yang menyinari folder rasa yang teramat dalam.
    Bersembunyi, seperti takut akan dihukum mati
    Ada pagi yang memberi salam kepada pena kawan yang telah terbang bersama awan sedangkan ada pena yang remuk batuk 

    Selamat hari jadi ke-14 COMPETER
    Mari kita bakar lilin, sumbunya dipilin oleh ide cemerlang
    Kita pesta di atas naskah yang nyaris bunuh diri dan kita tertawa bersama hingga melupakan kuburan emosi yang gagal menjadi pelita bait yang syahdu
    Tahun depan mari kita merajut puisi di konstelasi pena, Tuan-puan
    Langit COMPETER akan tetap sama, hangat dan nyaman selamanya.

    Pekanbaru, April 2026

    Kairan Hanafi. Siswa SMA Al-Huda Pekanbaru yang sangat suka menulis, membaca dan menggambar, kurang bisa berekspresi di depan orang dan lebih memilih terbuka di depan kertas dan di ujung pena. Kelahiran 7 Agustus 2008. Karyanya pernah dimuat di tirastimes.com, sepenuhnya.com, sanggam.id. Bergiat di Ekskul Sastra Al Huda. IG: @kei_han77

    Bungkam
    Oleh: Fatkhurrohman ZA

    Jemari rendah tengadah
    Seusai tutup kalam-Nya
    Berbaris antrean pinta
    Tapi lisan kelu berdoa.

    Dosa bungkam pangkal lidah
    Sisakan pijar nyali
    Berbisik ke semesta
    “Tuhan, mohon ampuni”.

    TMII, 14 April 2026

    Ketegangan dalam Ember
    Oleh: Fatkhurrohman ZA

    “Kau hadir lagi
    Kotor menjamur
    Kikis aura hidupku!”
    Buih bergolak marah.

    “Maaf,
    Serat tubuhku
    Berlumur bulir keringat
    Tertempel atom tanah…”
    Kain dekil tertunduk salah.

    TMII, 15 April 2026

    Fatkhurrohman ZA. Lahir di Kabupaten Lahat, tahun 2000. Pria yang kini berdomisili di Cipayung, Jakarta Timur ini berprofesi sebagai Pengembang Tafsir Al-Qur’an di Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. Ketertarikannya pada dunia literasi mulai ia tekuni secara konsisten sejak akhir 2024.
    Langkahnya dalam merawat imajinasi dan memperdalam diksi ditempuh melalui serangkaian proses kreatif. Dia merupakan lulusan Kelas Puisi Online Refleksi Jelma Puisi bersama Muhammad Sholeh Arshatta–Symprerifora Publisher 2026. Dia juga lulusan Kelas Puisi Online Puisi Naratif bersama Djuminten–Symprerifora Publisher 2026. Dia kini tengah mengikuti Kelas Puisi Online Asqa Imagination School (AIS) bersama Muhammad Asqalani eNeSTe. IG: @fatkhurrohman_za

    Perahu Koyak

    perahu koyak menepi
    meninggalkan gegap gempita
    gelombang mendera-dera

    lubang menganga
    adalah coretan suka duka
    menghiasi seluruh perjalanan

    saat sauh ditambatkan
    nyalinya perlahan karam
    berakhir sudah daya upaya

    Poasia, 7 Juli 2019: 10.25

    Pusara Ibu

    bersimpuh di pusara ibu
    adalah gambaran rindu
    dari hulu ke hilir

    hingga angin menjemputnya
    terasa hamparan luas menerpa
    ringan tak bersukma

    bersama kelopak mata
    menutup kala senja tiba
    tak perlu air mata dahaga

    Kemaraya, 1 Mei 2019: 19.26

    AGUS K. SAPUTRA, lahir 14 Agustus 1968. Alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Mataram, Jurusan Manajemen, angkatan 1987. 

    Menyukai puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dengan cara ikutikutan lomba. Saat di SD Bebedilan II Ciamis, paling antusias dengan tugas drama. Dan hal ini ditekuni saat ikut pelajaran ekstrakurikuler di SMAN 1 Mataram. Lulusan SMAN 1 Ciamis ini adalah seorang pensiunan PT Pegadaian–terakhir bertugas sebagai Lead di Kanwil VII Denpasar, Bali. 

    Kini aktif di Akuair: art & creative enterprise (komunitas seni di Kota Mataram, NTB). Imaji Air Api merupakan buku kumpulan puisinya yang kesembilan. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit adalah Kujadikan
    Ia Embun (Halaman Indonesia, 2017), Menunggu di Atapupu (Halaman Indonesia, 2018), Sepucuk Surat dan Kisah Masa
    Kecil (Halaman Indonesia, 2020), Bermain di Pasar Ampenan (Halaman Indonesia, 2021), Mencari Rumah Sembunyi (Halaman Indonesia, 2022), Januari di Kendari (Halaman Indonesia, 2022), Pertemuan Kecil (Halaman Indonesia, 2024) dan Buku Harian Merah Muda (Halaman Indonesia, 2024).
    Postingan Lama Beranda

    ABOUT US

     



    Platform berisi puisi, quote, buku, dan berita sastra yang diprakarsai oleh Muhammad Asqalani eNeSTe, Eko Ragil Ar-rahman & Cindy Neo.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • PARADE PUISI
    • Puisi-Puisi Fatkhurrohman ZA
    • PARADE PUISI
    • Puisi-Puisi Wahyu Tanoto
    • PARADE PUISI
    • Puisi-Puisi Agus K. Saputra
    • PARADE PUISI
    • MERAYAKAN HARI IBU DENGAN MELAHIRKAN BUKU
    • Puisi-puisi Hadi Arrasyid
    • Puisi-puisi Timothy Yan Felix Sitorus

    Categories

    • Berita Sastra 1
    • puisi 7
    • Puisi 22
    • quote 4
    • sastra 29
    • Sastra 4
    • Tentang Kami 1
    • tulisan 1

    Advertisement

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    ENESTE.ID



     

    Copyright © ENESTE.ID. Designed by OddThemes