Lentera di Atas Nisan Waktu
Di ambang pagi, Ibu menggantungkan lenteranya—
api kecil yang menirukan denyut bumi.
Pagi berjalan seperti puisi Homeros,
membawa kisah perjalanan panjang
yang selalu kembali ke dekapan rumah.
Tangannya mengetuk wajan tembaga,
suara berulang menyerupai mantra purba.
Di sela denting, angin memanggil pulang,
dan dapur menjelma medan perang
antara lapar dan harapan.
Aku meresapi ragi yang menguapkan hidup,
seperti Ikarus yang gagal belajar jatuh.
Ibu menyiramnya dengan doa tipis
yang mengalir dari keriput
laksana sungai kecil mencari laut.
Saat senja datang dengan langkah malas,
Ibu berdialog dengan bayangannya sendiri.
Mereka saling menukar beban:
satu memeluk gelap,
satu mengasuh terang.
Dan ketika malam menutup halaman hari,
lentera itu masih bernyala—
menjadi saksi bahwa kasih tak pernah wafat.
Jika esok kembali hancur,
Ibu-lah yang pertama merajut ulang waktu
dengan benang sabar yang tak pernah putus.
Bandar Lampung, 14 Desember 2025
Benang yang Menjahit Pulang
Di jemarinya, jarum berdansa,
menusuk pagi yang hampir retak,
mengikat sunyi yang berlari kencang,
seakan jarumnya adalah kompas sunyi,
menambal celah hari tanpa suara.
Ia menjahit pulang di lekuk senja,
menarik benang jingga yang bandel,
membuat angin menunduk hormat,
membuat bayang kembali merapat,
meski pekat malam berusaha merebutnya.
Kursi tua itu menggerutu,
merindukan punggung yang tak henti bergoyang lembut—
Ibu menenun waktu,
menipu usia yang tak bertepi,
membuat detik seolah berhenti bernapas.
Kadang ia menertawakan gelap,
kadang menghibur terang,
dua musuh berdamai di matanya yang teduh,
dua dunia saling memanggil,
namun ia tetap menjadi jembatan yang tak pernah patah.
Dan ketika simpul terakhir mengikat ujung malam,
ia bisikkan mantra lama—
“Pulang… pulang…”
hingga bumi ikut mendekap hangat,
dan aku pun mengerti:
setiap langkahku hanyalah jalan kembali ke pangkuannya.
Bandar Lampung, 11 Desember 2025
Timothy Yan Felix Sitorus. Lahir di Bandar Lampung pada 8 Januari 2009 dan saat ini berdomisili di Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Ia merupakan siswa SMA Negeri 5 Bandar Lampung yang menaruh minat besar pada dunia akademik, literasi, serta pengembangan gagasan melalui tulisan. Sejak di bangku sekolah, Timothy dikenal sebagai pribadi yang tekun, disiplin, dan memiliki ketertarikan kuat pada ilmu pengetahuan serta refleksi terhadap berbagai persoalan pendidikan dan sosial.
Ketertarikannya pada bidang akademik mendorongnya aktif mengikuti berbagai kompetisi ilmiah. Ia pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang IPA tingkat SMP serta meraih medali perak dalam kompetisi olimpiade matematika. Pada tahun 2024, ia meraih medali emas dalam Olimpiade Sains Indonesia (OSI) tingkat nasional bidang Geografi. Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya dalam mengasah daya pikir kritis, analitis, dan kepekaan terhadap dinamika pengetahuan.
Di luar kegiatan akademik, Timothy juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan sebagai anggota Duta Bank Sampah. Ia memiliki kegemaran membaca dan mendengarkan musik, yang baginya menjadi ruang perenungan sekaligus sumber inspirasi dalam menulis. Melalui tulisan-tulisannya, Timothy berupaya menghadirkan gagasan, refleksi, serta harapan tentang pendidikan, masyarakat, dan masa depan generasi muda.
Timothy dapat dihubungi melalui Instagram: @tyfelixs_ serta Youtube: @TimothyYanFelixSitorus


.png)