Puisi-Puisi Cindy Neo


Titipan di Ambang Diam

 

Tuhanku,

sejak Engkau titipkan aku di hunian-Mu yang tersembunyi dalam nasab waktu,

hening membalut batinku laksana embun tua yang menghafal arah pulang.

Kedamaian-Mu turun,

bukan sebagai musafir,

melainkan penghuni abadi rongga dada yang telah lama sunyi.

 

Aku tak lagi tinggal dalam ruang—

akulah yang kini dihuni.

Dinding demi dinding jadi saksi yang tak bernama:

ini bukan rumah biasa,

melainkan mihrab-Mu yang Kau selubungi kabut zuhud.

 

Suara-Mu tak menggema,

tapi hadir sebagai tarikan napas dalam desir yang tak kasat.

Tatapan-Mu tak berupa bayang,

melainkan bening cermin menelanjangi segala getar ruh.

 

Dan aku—

hanyalah serbuk waktu yang Kau tiupkan makna,

hingga diam-diam jadi saksi dari Cinta-Mu yang menyelinap

di balik segala yang tampak tenang.

2025

 

Kutukan Para Penyair

 

Kami dikutuk jadi penyair—

saat dunia sibuk mengejar citra,

kami masih berbincang dengan batu

dan menyimak angin

yang tak terlihat namun hadir.

 

Di tengah logika yang mendewakan kecepatan,

kami memilih lambat,

karena tahu bahwa makna

butuh ruang untuk berdiam.

 

Orang-orang menyebut kami asing,

karena kami tak menjual kata,

melainkan memeliharanya

seperti cahaya yang belum sempat dijelaskan akal.

 

Kami tak menulis untuk dipahami,

tapi untuk menyentuh

apa yang tak terucap oleh kesadaran sehari-hari.

Kami bukan pencari pujian,

kami pencatat jejak

yang tak kasat bagi mata terburu.

 

Jika ini kutukan,

biarlah ia jadi jalan sunyi—

sebab dalam luka kata

tersimpan percikan dari sesuatu

yang tak bisa disebut,

tapi selalu mengajak jiwa kembali pulang.

2025

 

Cindy Neo. Kelahiran Pekanbaru, 16 April 1994. Seorang penulis dan pekerja seni yang lahir dari tanah Melayu, tumbuh bersama kata, dan bekerja di dunia visual—sebagai perupa momen dalam bidang dekorasi.

Sejak kecil, ia telah menemukan dirinya tenggelam dalam tulisan. Baginya, menulis adalah cara menyelamatkan diri dari banjir emosi, kenangan, dan percakapan yang tak sempat diucapkan.“Aku menulis karena ingin mengalirkan segala yang mengendap di dalam kepala.” Ia percaya bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, tetapi ruang untuk berdamai, bertumbuh, dan mendengarkan suara batin yang kerap terlupakan.

Telah bergabung di berbagai komunitas sastra seperti Malam Puisi Pekanbaru, Paragraf, dan Asqa Imajination School (AIS). Puisinya dimuat di Ranah Riau, Salmah Publishing, KKR Bali, Tatkala.co, Tirastimes dan asqaimaginationschool.com. Buku perdananya yang bertajuk Dalam Sunyi, Aku Pulang yang sedang Anda baca ini. Ia terus melangkah sebagai pejalan rasa—yang menyulam kata menjadi jembatan penyembuhan. Motto hidupnya: “Aku hidup untuk menjadi saluran manfaat—melalui kata dan rasa.” IG: @pejalancinta_

 


0 komentar