Setelah Perintah Turun
Oleh: Gadih Piliang
Tanah buka ingatan.
Langit tutup matanya.
Sesuatu lepas
tanpa suara.
Kayu ajar berdiri
di tempat yang salah.
Paku tahan napas,
waktu digantung
antara ketukan.
Air datang
bukan marah,
tapi patuh. tapi sayang.
Ia hapus jejak
yang tolak pulang.
Ada nama
tak selesai dipanggil.
Ada tinggi,
gagal jadi pelindung.
Saat semua reda,
lumpur tetap tinggal.
Bukan sisa,
tapi, cambuk peringatan,
enggan diucapkan.
Kota Bidadari, 23012026
Oleh: Gadih Piliang
Tanah buka ingatan.
Langit tutup matanya.
Sesuatu lepas
tanpa suara.
Kayu ajar berdiri
di tempat yang salah.
Paku tahan napas,
waktu digantung
antara ketukan.
Air datang
bukan marah,
tapi patuh. tapi sayang.
Ia hapus jejak
yang tolak pulang.
Ada nama
tak selesai dipanggil.
Ada tinggi,
gagal jadi pelindung.
Saat semua reda,
lumpur tetap tinggal.
Bukan sisa,
tapi, cambuk peringatan,
enggan diucapkan.
Kota Bidadari, 23012026
Selimut Rindu
Oleh: Gadih Piliang
(D)ada sepi
Tak ada tawa, hanya
terselubung diam
di (s)isi hati
Perih main di sela jari
Tak ada (s)apa
Tak ada siapa
Hanya nyanyian sepi, hibur diri.
Rindu kurajut
Rindu kusulam
Jadi selimut (m)alam
Penghangat abadi.
Kota Bidadari, 31012026
Gadih Piliang nama pena seorang guru di SMAN 1 Bandar Petalangan yakni Yessi Riatny, S.Pd. jurusan Bahasa Indonesia. Berbekal ilmu dan kecintaan terhadap dunia sastra khususnya puisi sehingga karyanya sudah diterbitkan di berbagai media masa yaitu di Tirastime, Kompasiana, Instagram, maupun media sosial lainnya. Saat ini aktif di Asqa Imagination School (AIS). "Ukir karya Lewat Tinta." IG: @cikgu_yessi



.png)
0 komentar