Oleh: Joyce Arifin
mak
kau tanam subuh di telapak sawah
air mata jadi embun di batang padi
jari jari kapalan, sisa doa yang tak pernah usai
di ketiak senja, mak menakar rindu yang berserak
sebab abah jadi angin bertiup dari negeri seberang
"Sekolahlah setinggi awan" kata mak,"tapi jangan cabut akarmu dari tanah ini"
aku tumbuh dari curah keringat mak
yang tak ada pernah meminta
dari padi yang diperam di lumbung sunyi.
ketika bulan memeluk bintang
mak diam menatap langit
bertanya pada cakrawala, apakah angin masih ingat jalan pulang
kini jalanku jauh dari ladang
namun suara cangkul masih jelas mengetuk telinga dan nasi dari tangan mak tetap hangat di dadaku
kelak, bila aku pulang
biar angin tahu akar akarku kokoh di ladang doa mak
Melbourne 13 Desember 2025
*mak adalah panggilan untuk ibu
*abah adalah panggilan untuk ayah
Matahari Dalam Lesung Ibu
Oleh: Joyce Arifin
ibu,
bangun sebelum matahari mencium langit
gerak langkah sabit hari demi hari
buat bumi meringis
di tubuh sederhana ini sembunyi jiwa yang tak gagal pada nasib
ibu,
di lumbung senja, pada lesung tua kau tumbuk padi seperti menumbuk nasib
jadi butir butir putih jalan kami
tiap tetes keringatmu
adalah hujan rahasia yang tak pernah jatuh ke tanah
tapi terbang tinggi jadi doa
meresap tanpa suara pada masa depan kami
ibu,
jika nanti kami jadi cahaya
ketahuilah cahaya itu dari bara kecil yang kau titip pada dada kami
sejauh apapun kami pergi
akhir tiap langkah ini
kembali ke rumah sederhana
tempat matahari pertama
yang kau simpan dalam lesung dan suara lembut
" Nak pulanglah"
Melbourne 14 Desember 2025
Joyce Arifin. Tinggal di Melbourne, Australia. Suka puisi. Karya-karyanya terhimpun dalam sejumlah antologi. Aktif di Asqa Imagination School (AIS). IG: @joycearifin



.png)
0 komentar