Sajak Seorang Piatu di Hari Ibu
/1/
Hari ini, toko-toko penuh dengan wewangian dalam botol-botol anggun:
Aroma melati, mawar, dan sesuatu yang disebut "karunia ibu".
Namun aku, bu;
Hidungku hanya mencari sisa-sisa bau minyak telon di lipatan bantal tua,
Aroma singkong rebus di dapur senja,
atau bau kapur barus yang kauselipkan di antara tumpukan kain—
aroma-aroma sederhana yang kini lebih mahal dari semua parfum di etalase.
/2/
Ada yang merayakannya dengan pesta rasa di meja panjang: telur mata sapi yang masih bergetar di atas piring, susu hangat dalam gelas keramik, dan tawa riuh yang menguap ke langit-langit—sebuah jamuan yang tak pernah kekurangan bahan.
Sedang pagiku dimulai dengan memutar kenangan seperti pita kaset usang:
Suaramu memanggil namaku untuk ketiga kalinya,
Gemercik air saat kau membasuh wajah di bak,
Dan denting sendok di atas piring yang selalu kaurapikan untukku.
Sekarang, yang tersisa hanya sunyi yang menggumpal di kerongkongan.
Ritual kami terpotong seperti film yang putus di adegan terbaik.
Aku tak tahu lagi bagaimana memulai hari tanpa daftar tugas yang kau bisikkan.
/3/
Hari Ibu adalah bahasa asing yang tak pernah kuambil kelasnya.
Orang-orang bertukar kosakata: "terima kasih", "kasih sayang", "pengorbanan".
Mulutku kelu. Lidahku hanya hafal dialek-dialek kita yang punah:
"Jangan lupa pakai jaket," itu artinya aku mencintaimu.
"Nanti ibu belikan es," itu artinya semoga harimu ringan.
"Sudah makan belum?" itu artinya kamu adalah dunia ibu.
Kini, tak ada lagi yang menerjemahkan diamku.
Aku menjadi orang asing di negeri sendiri,
Berbicara dalam bahasa isyarat yang hanya kami pahami,
kepada satu-satunya penerjemah yang telah pergi.
/4/
Kehilanganmu bukan seperti pisau yang menusuk sekali lalu selesai.
Ia seperti akar alang-alang di kebun rindu:
Semakin kucabut, semakin dalam ia menyelinap,
Tumbuh kembali di setiap sudut musim.
Saat aku lulus, ia tumbuh di tepian sorak yang tak kaudengar.
Saat aku jatuh, ia merambat di luka yang tak kauolesi.
Ia menjadi bagian dari susuk tubuhku—
Sebuah ruang hampa yang bernapas, berdenyut,
Selalu mengingatkan pada bentukmu yang sudah tiada.
/5/
Aku mewarisi sebuah kotak kayu.
Di dalamnya: peniti, kancing baju, potongan kain, sehelai rambutmu disisir.
Barang-barang yang tak berarti bagi katalog mana pun.
Namun inilah museumku yang paling megah.
Setiap benda adalah nisan kecil,
Menandai tempat dimana sebuah memori terkubur hidup-hidup.
Kadang, dengan hati-hati, kukeluarkan satu per satu,
Lalu kukuburkan diriku bersamanya.
Menjadi anak yang hilang di antara artefak cinta yang tak lagi memiliki sang penjaga.
Pagaralam 16 Desember 2025
Surat dari Seorang Ibu di Surga Ketika Anaknya Terluka
kemarilah, Anakku
angkat wajahmu—
jangan menunduk seperti itu.
aku tahu, kau ingin seseorang berkata:
"Tidak apa-apa, Nak. Kau tidak kalah."
kau hanya ingin tangan hangat
yang menyeka air matamu
seperti dulu ibu melakukannya—
tapi tangan itu sudah lama tiada.
dan hari ini,
yang tersisa hanya kau,
rindu,
dan napas yang kau hirup perlahan.
tapi dengar baik-baik:
meski kau berdiri sendirian, tak ada yang menunggumu ketika pulang,
Atau yang menempelkan plester
dan meniup luka sampai rasa perihnya reda—
kau tetap layak bangkit.
kau mengulurkan gulungan kenangan
yang tak utuh sebagai hasil kejaranmu hari ini.
benang tanpa layang-layang.
usaha tanpa hasil.
dan aku tahu apa yang ingin kau katakan :
"Aku sudah mencoba, tapi tak berhasil."
ah, Nak…
dunia tidak selalu memberikan hadiah
di percobaan pertama.
kadang ia menyembunyikan apa yang kita inginkan
di ranting pohon paling tinggi
untuk melihat apakah kita benar-benar menginginkannya—
atau hanya sekadar penasaran.
sebentar…
sini, aku tiup luka itu pelan-pelan.
bukan karena tiupanku menyembuhkan,
tapi karena itu satu-satunya cara
agar kau merasa tidak sepenuhnya sendirian.
kau meringis kecil saat kuusap kenangan itu,
seolah rasa sakitnya baru kau sadari.
iya, Nak.
sakit memang begini rasanya.
seperti garam yang jatuh ke air—
pedih dulu, jernih kemudian.
kau menoleh dengan senyum kecil yang penuh sisa air mata dan keberanian:
"jadi… besok boleh kukejar lagi?"
aku tertawa kecil—
tawa yang retak, tapi tetap utuh.
karena walaupun aku tak lagi ada untuk menuntun langkahmu,
kau tetap harus berjalan. Tak ada lagi yang memanggilmu "Nak" lagi,
kau tetap harus tumbuh.
Tak ada ibu yang menengok luka-lukamu,
kau tetap harus bermimpi.
kejarlah, Nak—
bukan karena seseorang memintamu untuk melakukan itu,
tapi karena hidup adalah perjalanan panjang
yang hanya kausudahi
ketika napasmu berhenti.
dan jika suatu hari kau berhasil,
ingatlah:
kau sampai di sana
bukan karena tak pernah jatuh—
melainkan karena kau berani bangkit
Meski tak ada lagi yang mengulurkan tangan.
Terimakasih ucapan selamat hari ibumu—walau hari ini yang kaupeluk hanya sunyi
dan yang kaupanggil hanya namaku
di dalam dada yang terus belajar menerima.
Pagaralam, 11 Desember 2025
Apriansyah Sang Puisi adalah nama pena dari Apriansyah, S.Pd. Penulis kelahiran Sidorejo 24 November ini adalah guru Matematika di Pagar Alam. Beberapa karyanya terkumpul dalam Antologi bersama Penulis dapat dihubungi di email: apriansyahmatematika@gmail.com Atau FB/IG @apriansyahsangpuisi


.png)
0 komentar