Perokok Dini dan Abad Tumbang
Asap tipis itu lebih tua dari kaus kakinya,
lebih teguh dari janji di buku tulis.
Tangan dua belas tahun
membakar rontokan harapan.
Di ruang BK, kepala sekolah menampar sebuah kehancuran
tangan ayam goreng bertemu pipi pubertas.
Guru menangisi tabel periodik
yang bubar dalam karbon monoksida.
Kelas lima SD sudah mengenal nikotin
sebelum mengenal Najwa Shihab.
Masa depan menyusut seperti puntung
di sela jari yang belum layak memegang hak pilih.
Di sini, paru-paru bersekolah lebih cepat dari pikiran.
Bronkiolus mencatat pelajaran pertama
bahwa dewasa adalah nama lain
untuk membara dalam diam.
Pagar sekolah berkarat oleh larangan.
UU No. 36 menggantung seperti seragam
yang terlalu longgar untuk tubuh-tubuh
yang dikubur dalam seragam sendiri.
Wali kelas mengajar hukum Archimedes
sementara murid-muridnya tenggelam
dalam kepulan yang lebih patuh
daripada rumus matematika.
Indonesia menua dalam sembilan detik.
Setiap hisapan adalah pemakaman kecil
untuk fokus yang tersesat di antara awan,
untuk bola basket di gudang
yang lupa cara memantul.
Ayah-ibu rapat membahas ranking,
tidak melihat asap yang merayap
dari celah pintu kamar
laksana kabut pembawa kabar
kelak akan ada pemakaman yang lebih luas
daripada upacara bendera.
Februari 2026
Ode untuk Burasa
Di sana, di dapur yang ramai oleh kenangan,
sebuah narasi teruleni dalam adonan.
Tepung beras, santan, dan gula merah
berbisik resep zaman
“Rasa ini adalah arsip, tanah yang dibawa merantau,
kuali yang menjadi kompas.”
Leluhur kita tahu, kelaparan tak hanya soal perut,
tapi juga jiwa yang merinduhkan bentuk.
Maka mereka membungkus pulung dalam daun pisang,
mengikatnya rapat dengan tali dari janji
bahwa di mana pun perahu singgah,
akan ada gumpalan kecil rumah yang menanti dibuka.
Setiap bungkus adalah kapsul waktu,
setiap kunyahan adalah penguburan rindu.
Ketika lidah menyentuh gula merah yang lumer,
bukan cuma manis yang merayap di langit-langit mulut,
tapi juga jejak kaki di tanah basah,
percakapan di beranda sore,
dan doa-doa sebelum berlayar.
Burasa bukan sekadar santapan,
ia adalah upacara kecil untuk mengingat
bahwa kita boleh mengarungi tujuh samudera,
asalkan tidak melupakan cara membungkus bulan
dalam daun pisang, dan menyebutnya “pulang”.
Februari 2026
Gita Nur Febriani. Penulis asal Bontojai yang sejak 2023 menjadikan menulis sebagai praktik kejujuran batin. Baginya, kata bukan sekadar alat ekspresi, melainkan ruang hidup untuk merekam kebenaran secara sederhana dan jujur.
Karyanya terhimpun dalam 215 buku antologi bersama puluhan komunitas literasi serta empat buku solo. Ia kerap menjadi finalis favorit dewan juri dan meraih sejumlah penghargaan literasi.
Pada tahun 2025 bergabung di COMPETER Indonesia (CI), Gita tercatat sebagai peserta yang lolos 10 Besar Anugerah COMPETER Indonesia (ACI) 2026, sebuah ajang sastra nasional.
Gita bisa disapa di Instagram: @git.a2000


.png)
0 komentar