Puisi-Puisi Riki Utomi


Kafka Dalam Memori

sebut saja aku kumbang. hinggap pada batang
pohon pinang. mencarimu dengan harap mekar mawar.
namun apakah dapat dikira dari jenuh masa yang 
runut itu.

sebut saja aku belalang. lompat kian lompat dari
rerumputan hijau itu. sedepa dari dudukmu.
melihat ranum mukamu yang semerbak mekar mawar.
sebening pualam kulit mangga.

sebut saja aku coro. merayap senyap tengah malam
ke pucuk lelapmu. sunyi menyentuh tubuh ini lebih
gema daripada ribut hutan. demi melihatmu mekar
kembang sangsi, aku tak peduli.

Selatpanjang, 2026


Kota yang Lumpuh Bersama Kami

aku besama kalian di sini. menghirup bau petasan.
atau apapun hiruk-pikuk teriakan. gedung itu masih
angkuh menyimpan luka-duka kami. merubungnya
bukan untuk mengambil, namun menyemai harap
yang lenyap.

aku bersama kalian. merayap, menyusup, menggerak
ke tiap celah peluang. melempar harap ke celah-celah
ventilasinya. menyerap gema walau lenyap bersangsi. 
menduga-duga apakah telinga mereka tuli atau normal 
kembali.

Selatpanjang, 2026

Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 19 Mei. Alumnus Prodi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau. Bukunya antara lain: Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen, 2015), Mata Kaca (cerpen, 2017), Menuju ke Arus Sastra (esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (nonfiksi, 2019), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen, 2020), Amuk Selat (puisi, 2020), Menjaring Kata Menyelam Makna (esai, 2021), Jelatik (novel, 2023). Bekerja sebagai pendidik di Selatpanjang, Riau.

0 komentar