Puisi-Puisi Citra DNA


Candi-candi Budha

Masa kerajaan berjaya
Konon, berdiri di masa kerajaan Sriwijaya

Empat candi apik mencolok
Stupa Mahligai, tinggi mencakar cakrawala
Candi Sulung melingkar dan Bungsu 
yang lahir dari batu bata
Yang akhir ialah Palangka, sebagai altar pemuja

Batu-batu bertumpuk jadi satu
Kokoh berdiri tangguh tak runtuh
Bagai tercipta dari tangan-tangan dewa

Itulah Muara Takus
Candi Budha tertua di pulau Percha

Jambi, Maret 2024

Aku Adalah Puisi

Dalam bait-bait puisi
Aku adalah huruf-huruf lepas
Yang menjelma burung di alam bebas
Jadi bebatuan dalam sungai-sungai kehidupan

Dan aku
Adalah apa saja yang kuingin
Tanah, air, angin, dan kobaran api 

Pun menjadi embun pada puisi-puisi haru
Menjadi kucing dalam puisi-puisi lucu
Menjadi harimau dalam luapan emosi
Aha, jadi bunga-bunga saat bahagia

Lalu, aku sekadar manusia
Saat menulisnya

Pematang Gajah, Mei 2024

Citra DNA, menulis puisi sebagai pengutaraan rasa. Ia menulis di awal 2020 dengan puisi-puisi ringan. Puisi-puisinya termuat dalam beberapa buku antologi bersama dan juga media online. Ia mulai menulis cerita pendek di tahun 2025. Berproses di kelas puisi online Asqa Imagination (School). Kini ia tengah menyiapkan buku tunggal perdananya.

@citra_dewinuranggraini
@cidean_elkhoir

0 komentar