Moldova, Negeri yang Menyimpan Cahaya
Oleh: Sekar Hartono
Di antara sisa-sisa musim yang merambat pelan,
Moldova tumbuh bagai pohon anggur tua,
akarnya memeluk tanah,
rantingnya menyentuh langit yang berubah-ubah.
Di ruang bawah tanah, anggur beristirahat,
waktu tak benar-benar diam.
Ia menyimpan suara leluhur,
jejak langkah yang pernah terusir,
dan doa-doa yang tetap menemukan jalan pulang.
Sungai Dniester mengalir tenang,
bagai ingatan yang menolak hilang.
Ia membawa resonansi masa lalu,
tentang perang yang pernah datang,
tentang luka yang belajar pulih.
Di ladang-ladang hijau,
rakyatmu menanam lebih dari sekadar biji.
Mereka menanam nama,
menanam bahasa,
hingga garis-garis batas
tak lagi mampu
mengukur sebuah bangsa.
Moldova,
engkau bukan sekadar titik kecil
yang terhimpit bayang-bayang raksasa.
Engkau adalah tangan-tangan sederhana
yang menyalakan pijar,
ketika sejarah berulang kali mencoba memadamkannya.
Biarkan dunia membaca namamu
bukan hanya di garis batas peta,
tetapi dari aroma anggur,
nyanyian desa,
dan hati rakyat yang berkata:
"Kami ada.
Kami pernah terluka.
Namun, kami tetap Moldova."
Purwokerto, 8 Juli 2026
Retakan yang Mengingat Cahaya
Oleh: Sekar Hartono
Malam melipat suara.
Aku duduk di ambang hening,
tempat bayang-bayang mengembalikan namaku
dengan ejaan yang tak lagi kukenal.
Di telapak waktu
syukur bukan lagi ucapan,
melainkan urat-urat cahaya
yang diam-diam menjahit retak di dada.
Aku pernah memelihara angin
hingga ia menjelma mara bahaya,
kesombongan tumbuh
bagai lumut di dasar mata,
menghijaukan segala yang semestinya bening.
Lalu Kau hadir
bukan sebagai gelegar,
melainkan embun
yang mengajari batu cara menangis.
Ya Allah,
Engkau Ar-Rahman,
yang menyalakan pelita di reruntuhan batinku,
Engkau Al-Latif,
yang menyelundupkan fajar
ke dalam kantong-kantong gelap sukmaku.
Kini kupelihara mahabah
seperti burung yang menolak sangkar;
ia terbang menembus rusuk-rusuk langit,
mencari-Mu
tanpa peta, tanpa alamat,
hanya dipandu denyut yang tak pernah berdusta.
Dan ketika subuh membuka kelopak bumi,
aku mengerti:
muhasabah bukan menghitung dosa,
melainkan membiarkan jiwa
dibaca kembali oleh-Mu.
Purwokerto, 7 Juli 2026
Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394


.png)
0 komentar