Satu Helai Napas Malam
Oleh: Rini Ahyu
Dua alam berpadu, belahan jiwa menyatu.
Cinta Dewa dan Tanah Bumi menemukan singgasananya.
Berkat cinta, persembahan sang Dewa,
kota megah mahakarya simetris.
Kuningan yang berkilau, timah, dan orichalcum,
arsitektur yang bernyawa.
Istana menantang langit.
Keserakahan, kesombongan dan ambisi,
hati lebih dingin dari marmer istana.
Pembusukan moral di mana-mana,
Murka para Dewa.
Satu helai napas malam,
menelan seluruh ambisi,
mengunci Atlantis,
dalam pelukan murka ombak,
Kota emas turun ke dasar sepi,
biarkan laut menghapus jejaknya.
Namun abadi dalam peta mimpi dan legenda.
Pekanbaru, 12 Juli 2026
Senja di Ujung Tenggara
Oleh: Rini Ahyu
Angin senja menyapa lembut helaian daun
Pusaran waktu bergulir dua abad yang lalu
Berdampingan memandang jatuh lembah hijau
Gema suara berkisah dari pucuk ranji.
Satu lembah, bukit menjadi pembatas daerah.
Bentangan petak-petak sawah,
menguning bagai hamparan emas.
Batang Selo mengalir bening,
menyimpan pantulan langit.
Di ujung tenggara Tanah Datar,
kepulan tipis sumber air panas,
seolah bumi mengembuskan napas
para pendahulu.
Akulah akar yang menembus tanah.
Ayahmu batang yang menjulang.
Engkau ranting yang meneruskan musim.
Kami menugal,
menanam,
menuai,
menghidupi hari dari musim ke musim.
Ranji sampaikan guratan garis dari abad ke abad.
Jejak darah mengalir jadikan kompas asal usul.
Setiap nama adalah arsip tak bersuara,
Rawat tali rahim yang takkan putus.
Pekanbaru, 13 Juli 2026
Rini Ahyu. Kelahiran Padang Ganting, 22 September 1979.Seorang guru yang menyukai dunia kepenulisan dan mulai serius menulis tahun 2000. Aktif menulis antologi dengan beberapa komunitas kepenulisan seperti FLP, JSDI, ATPUSI dan KPBJ. Karya cerpen yang pernah dimuat media massa yaitu Aku yang Terluka di Bangka Pos.
Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #70. IG: @riniahyu


.png)
0 komentar