Puisi-Puisi Wahyu Tanoto


RITUS LUMBUNG KOSONG

Luku subuh mengeram karat,
hujan mendikte galengan:
hidup remah rehat yang ringkih,
bukan igauan lumat di ujung arit.

aku berjaga setia,
menatah nyala di antara pematang pecah;
melangkah berpaut tenggok,
mengeras jadi diri.

kita benar-benar tak tiba,
hanya singgah; 
satu tanya meranggas di lumbung kosong.
abadi bukan jawaban,
melainkan keberanian melawan ketakpikirkan

Bantul, 2026


SEKERAT RINDU DI BATU KARANG

Kutulis namamu pada butir-butir garam
agar larut mengkristal dalam darahku, 
engkau adalah aroma tanah setelah hujan 
yang paling tabah memeluk akar rindu.

Matahari; lelah mengecup kening laut 
tapi aku tak pernah jemu mencium jejakmu,
sebab di matamu, kulihat ribuan perahu 
memulangkan sauh ke pelabuhanku.

Kekasih, biarlah cinta ini sekeras karang di pesisir 
namun selembut buih yang mencium kakimu, 
aku ingin menjadi doa yang paling khusyuk 
yang diselipkan angin di relung cadarmu.

Jika nanti aku hilang ditelan ombak 
temukan aku di dalam debar jantungmu,
sebab di sana, aku telah mengerami karang
dari sari pati rindu dan sorot matamu.

Bantul, 2026

Wahyu Tanoto. Mukim di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia Menulis esai, kumpulan puisi, cerpen, geguritan, ceria anak dan fiksi mini. Beberapa kali menjuarai event puisi. IG: @yutanbantul

0 komentar