Lingkaran di Atas Mahkota
Oleh: Setiabasa
Di Marseille, janji pernah mekar
sebelum ambisi membakar peta dan nalar
Ia lepaskan jemari tulus
demi mahkota berkilau
Namun sejarah bukan garis lurus—
ia lingkaran diam
yang tak pernah lupa
Désirée Clary,
namamu tinggal rindu yang dilipat sunyi,
ketika seorang Napoleon Bonaparte memilih matahari—
Kau berjalan di atas luka,
hingga tiba di utara—
di pelukan yang tak menakar cinta dengan pedang
Dan takdir, tanpa suara,
menyulammu menjadi lebih dari yang hilang
Sementara ia
mengejar dunia sampai ke ujung batas
dan akhirnya terkunci dalam pengasingan
Singgasananya runtuh tanpa perang,
namanya tinggal gema
yang perlahan memudar
Dan kau—
yang pernah dibuang seperti catatan kaki,
duduk di takhta tak tergoyahkan hingga kini
Bukan dendam yang kau simpan
melainkan tenang tak terperi
Roda berputar—diam namun pasti:
siapa meninggalkan cinta
akan kehilangan dirinya sendiri—
dan kadang dunia menyebutnya kemenangan
Tapi yang bertahan dalam sunyi
tak perlu menjatuhkan siapa pun
untuk tetap berdiri
Rintis, 6 Mei 2026
Interval di Ujung Kota
Oleh: Setiabasa
Di perhentian ini,
waktu melambat—
seolah jarum jam
kehabisan alasan untuk berputar
Hanya ada aku,
bayang papan rute,
dan angka-angka merah
membeku seperti luka kecil di dinding sore
Aku tertahan
dalam jeda yang dipaksakan
Buku tertinggal
jadi ruang kosong di tangan,
dan informasi keliru
terus berdetak di kepala
seperti pengumuman rusak,
diulang tanpa henti
Kesal menumpuk perlahan,
tipis seperti debu tua
di bangku halte
terlalu lama menunggu disentuh
Kenapa aku begitu mudah percaya
pada arahan keliru?
Kenapa hari ini
kutinggalkan satu-satunya teman
yang mampu jinakkan waktu?
Namun angin sore datang
tanpa membela siapa pun
Ia membawa bau tanah,
rumput,
dan kebebasan liar dari padang luas
Di seberang sana,
dunia tetap hidup dengan tenangnya sendiri
Sapi-sapi mengunyah cahaya senja
di padang rumput basah,
seolah tak ada yang perlu dikejar
selain kenyang dan angin
Angsa-angsa putih
mengiris permukaan kolam
dengan gerak nyaris tak bersuara
Di atas rumput,
anak-anak berlari mengejar bola
dan bayang mereka sendiri
Layang-layang bergetar di langit sore,
sementara tawa kecil pecah begitu ringan,
seolah belum pernah mengenal
jam, kehilangan, atau keterlambatan
Jauh di halaman rumah,
seorang ibu menggantung pakaian,
berkibar seperti doa sederhana
di bawah langit biru
yang bersih dari niat buruk hujan
Sedikit demi sedikit,
amarah itu luruh
bersama matahari tenggelam perlahan
di bahu kota
Lalu suara mesin terdengar—
kasar,
nyata,
membelah hening di sampingku.
Sebuah bus datang
dengan lampu redup,
seperti mata lelah
tapi masih tahu jalan pulang
Aku menarik napas panjang,
menelan sisa kecewa,
membiar jeda ini selesai
tanpa kemenangan
Rintis, 7 Mei 2026
Setiabasa, seorang ibu rumah tangga, ibu dua orang putra dan nenek sepasang cucu. Menyukai membaca sejak kecil. Fiksi, non-fiksi dan juga puisi. Sejak akhir 2022 mengikuti beberapa kelas online (Uti, AIS, Ruang Kata, Symprerifora dll) untuk belajar menulis puisi dan karyanya sudah masuk dalam beberapa buku antologi puisi.
Ia sedang mengikuti kelas puisi AIS#68. IG: @setia.xu


.png)
0 komentar