Yang Berkelindan
Oleh: Galuh Duti
sebuah bangunan berusia empat belas tahun
kusebut rumah, karena saat lelah banyak ruang untuk rebah
ini rumah, karena sejauh mana siapa pergi pasti kembali
jendelanya besar, udara dan tawa masuk
pada dada yang senang dan makin lapang
halamannya luas, biarkan kaki kami berlari
sesekali terkena duri, tapi kami diajari
bagaimana mencabut dan membalut luka dengan rapi
begitulah rumah, tempat hangat sebelum pelukan
tempat melabuhkan mimpi puisi dan jadi diri sendiri
bangunan berusia empat belas tahun itu
kini makin banyak penghuni
dindingnya dipelihara oleh cinta tak berkesudahan
tak ada sesuap diksi yang tak dapat dibagikan
karena dibangun oleh riuh harapan
dan rapal-rapal syair berkelindan
Malang, 25 April 2026
Galuh Duti. Perempuan kelahiran Surabaya ini serius menulis mulai tahun 2022. Baginya, menulis puisi selain hobi juga menjadi jalan untuk bahagia. Novela perdananya berjudul Melukis Wajah. Peraih Top 2 Asqa Book Award XXV. Puisi-puisinya dimuat di beberapa media.
Untuk menjadikan jejak tulisannya, dia menulis di beberapa antologi puisi. Pembaca dapat lebih dekat dengan penulis melalui IG @galuhduti FB: Galuh Duti.
==================================
Konstelasi Tinta
Oleh: Kairan Hanafi
Ingatkah saat puisi masih menjadi janin di kepalamu, Tuan?
Saat diksi masih merangkak, tidak berdiri di atas lisan
Saat metafora tidur di ujung hujan, takut dibasahi
Saat pena hanya seonggok mayat di atas meja yang berdebu
Dan hati hanya menjadi arwah terselimut dinginnya sunyi
Sadarkah engkau, Tuan?
Kita di sini, bawa luka sendiri-sendiri seperti kertas kosong yang alergi rima
Kata-kata itu lahir dari hangatnya air mata
Dijamah oleh retina yang menjelma konstelasi tinta
Lalu kalimat itu belajar berjalan di baris-baris yang pincang
Empat belas kali badai memukuli kita, Tuan
Ada malam yang menyaksikan penguburan emosi
Ada senja yang menyinari folder rasa yang teramat dalam.
Bersembunyi, seperti takut akan dihukum mati
Ada pagi yang memberi salam kepada pena kawan yang telah terbang bersama awan sedangkan ada pena yang remuk batuk
Selamat hari jadi ke-14 COMPETER
Mari kita bakar lilin, sumbunya dipilin oleh ide cemerlang
Kita pesta di atas naskah yang nyaris bunuh diri dan kita tertawa bersama hingga melupakan kuburan emosi yang gagal menjadi pelita bait yang syahdu
Tahun depan mari kita merajut puisi di konstelasi pena, Tuan-puan
Langit COMPETER akan tetap sama, hangat dan nyaman selamanya.
Pekanbaru, April 2026
Kairan Hanafi. Siswa SMA Al-Huda Pekanbaru yang sangat suka menulis, membaca dan menggambar, kurang bisa berekspresi di depan orang dan lebih memilih terbuka di depan kertas dan di ujung pena. Kelahiran 7 Agustus 2008. Karyanya pernah dimuat di tirastimes.com, sepenuhnya.com, sanggam.id. Bergiat di Ekskul Sastra Al Huda. IG: @kei_han77


.png)
0 komentar