TUBUHKU TERTINGGAL DI TIKUNGAN RAMBUTMU
menatap lampu jalan gerobak tubuhku tertinggal di tikungan rambutmu, orang-orang lewat, lumpur menempeli waktu dan sayur-sayur yang bisu
celana ayah menggantung menetapi malam mengelilingi kamarku di belakang pintu kayu yang berderit bau keringat menyelinap dan menetap, malam berjejalan dari kulitmu
namamu adalah kemungkinan yang membusuk, hilang di tempat sampah makamku
Surabaya, 2026
SURAT DARI MEJA TULIS YANG TRAUMA
meja tua menulisi nama tuhan di sudut laci dan kanakmu menangis, ia tak selalu diam mesti tubuh di atasnya memacetkan rumah yang terbalik dalam air mata
apakah tembok itu telah menyampai serpihan mimpi yang tak pernah layu itu?
mimpi tak pernah singgah dan keberangkatanmu adalah terminal paling panjang yang duduk di bangku kosong, jam tanganku selalu mengedipkan jantung
mas huri melepaskan koper dari pertanyaanku
"kenapa waktu lebih sayang pada kesalahan
dan kenapa tuhan seperti tukang parkir yang kadang tertidur?"
kutatap jendela perutku dan membayar ongkos orang-orang yang menyisakan parfum
"jangan terlalu percaya seperti: putar balik sebelum terluka, tapi tak ada yang membaca,
tak ada yang mau turun di tempat ini"
wajahmu menjadi debu di bawah kaki lumpur yang mengkiblati semua dosa dan menyamarinya sebagai perjalanan
Sidoarjo, 2026
Adnan Guntur kelahiran Pandeglang. Telah menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Sekarang berdomisili di Surabaya. Pendiri Saung Indonesia (Sastra, Pertunjukan, dan Rumah Kreatif), juga aktif berkegiatan di Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) dan Forum Pegiat Seni Surabaya (FPKS). Kumpulan Puisinya: Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri ( 2022 ) dan Sebagai Daun yang Tak Lagi Raib Terbakar oleh Darah Api (2023). Kumpulan Lakon Tubuh di Pukul 11.11 (2022).
Instagram: @adnan_guntur


.png)
0 komentar