RUMAH KITA
Oleh: Grace Gultom
Kita tidak menumpuk batu,
Kita menulis dunia dari dekat.
Suara ragu,
kalimat tertinggal,
kita pulangkan agar tak lagi sendiri.
Di sini, buku tak pernah benar-benar tertutup.
Jejak dibaca, ditanggapi,
kadang pula dikoreksi tanpa banyak suara,
Dan kembali lebih utuh.
Pena bukan untuk melukai,
ia memperbaiki.
Menahan yang hampir runtuh,
seperti cara kita menjaga.
Merpati kita lepas berulang kali.
Menerbangkan nama,
bukan untuk meninggi sendiri,
melainkan agar kebaikan punya arah.
Kita tak selalu serentak.
Ada yang datang terlambat, ada yang lama diam,
namun tak pernah benar-benar asing.
Sebab yang kita rawat bukan hadir,
melainkan keterhubungan.
Kini satu dan empat berdampingan,
bukti dari yang kita jaga bersama,
tak mudah hilang.
Kita memastikan
kata-kata punya tempat hidup,
lalu manusia tak kehilangan jalan pulang.
Jambi, 23 April 2026
Grace Gultom adalah penulis puisi pemula asal Jambi. Ia menulis sebagai cara menyimpan perasaan, pengalaman, dan peristiwa kesehariannya. Menulis baginya bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk terus belajar dan bersuara. Temukan karya-karyanya dalam Instagram: @nurel.gultom
==================================
Merayakan Kepak Sayap
Oleh: Dian Riasari
Malam ini aku merindu sosok remaja itu
yang kini melangitkan bendera 14 tahun
di dadamu, aku pernah tersedu
di pundakmu, kugantungkan asaku
di hari paling muskil, kau genggam hatiku
Tak jarang, kutinggalkan kau di sudut kota
namun selalu kudapati, kau tengah daki gunung tinggi
sedang aku, menanti benih perdu yang kau bawa
dari bukit-bukit terjal
Lenganmu tak pernah lelah merengkuh banyak pundak
lalu berderap bersama ke puncak
dari jemarimu, mengalir larik-larik cerita
terbentang ke segala penjuru mata angin
Kita tak selalu bertatap mata
namun ada yang tumbuh bersama, yaitu sayap-sayap tabah
terjelma dari tinta jiwa
Jika kepak sayapku tak mampu menembus langit biru,
kuharap kau tetap dampingi aku
untuk menulis dunia, menerbangkan nama, kebaikan tujuan utama.(*)
Malang, 23 April 2026
(*): semboyan Community Pena Terbang (COMPETER) Indonesia.
Dian Riasari, pegiat literasi dari Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada 40 lebih buku antologi (cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, dan puisi) serta satu buku solo. Beberapa karya puisinya dimuat di media online dan cetak, seperti: Harian Bhirawa, Tiras Times, Bambang Kariyawan.com, Ngewiyak, Riau Sastra, Negeri Kertas, Jurnal Tinta, Dermaga Sastra, Kabaran.id, Ranah Riau, Laman Riau, Jurnal Puisi Cinta. Bergabung di komunitas Alumni Asqa Imagination School (AIS), Community Pena Terbang (COMPETER), dan Ruang Kata. IG: @dian_de_lala. FB: Dian Riasari.
==================================
ELEGI GERBONG EMPAT BELAS
Oleh: Pramesetya Aniendita
Pada gerbong renta empat belas musim
kami menumpangkan lelah pada bangkunya
lajunya membawa angin dan tawa singgah
meninggalkan peron tuk setia menanti.
Di lorong sempit langkah pernah tersayat
oleh duri perjalanan yang tak selalu tampak
dari luka kecil kami mengeja sabar
menyulam kembali aksara yang hampir tercerai.
Gerbong jadi ruang singgah sebelum pulang
tempat kata-kata duduk tanpa sekat
di bangkunya aksara tumbuh perlahan
menjadi pelukan bagi hati yang penat.
Gerbong empat belas itu terus melaju
kini makin penuh penumpang
dindingnya dijaga harapan yang panjang
hingga tak ada sunyi yang dibiarkan sendiri.
Teluk, 25 April 2026
Pramesetya Aniendita, atau yang akrab disapa Dita, merupakan 10 besar Duta Anugerah Competer Indonesia 2026. Ia kerap menjuarai lomba puisi, antara lain Juara 3 Lomba Puisi SIP Publishing bersama Nana Sastrawan (2024), Juara 2 AIS (2025), serta Juara 1 Event Senandika bersama Tuang Aksara (2026), dan berbagai kompetisi literasi lainnya. Dita juga produktif berkarya. Ia telah menelurkan 12 buku solo serta berkontribusi lebih dari 100 buku antologi. Karya-karyanya pun telah terpublikasi di berbagai media online. Yuk, kenal lebih dekat dengan Dita melalui Instagram @book.wormholic.


.png)
0 komentar