Puisi-puisi Hadi Arrasyid


Aku yang Kau Miliki

Lututku berkarat, sebab sujud ini
Ia hanya punya satu arah
Adalah palung dadamu
Takzim yang sungsang
Namun paling tenang

Koyak saja warasku
Biarkan ludahmu menjadi ragi bagi luka
Yang sengaja kurawat
Demi kata 'kita'

Suara-suara terasa membatu
Menolak bising dunia
yang buta pada namamu
Hanya suaramu, kusesap sebagai candu

Jika ini kiamat,
Biarkan aku mati dalam peluk angkuhmu
Tanpa sisa
Hingga aku lupa pernah ada

Nusa Tenggara Barat, 26 Maret 2026

Yang Menang Bukan yang Benar

Emas digali dari pori-pori bumi yang bernanah
Timah panas mengucur, melumasi kantong-kantong berbulu
Sementara di meja makan kami, hanya ada piring kosong berdebu

Persetan dengan keadilan
Sebab hukum hanyalah sekrup yang bisa diputar
Asal kau punya obeng dari tumpukan uang

Kecerdasan?
Hanyalah gubal yang layak dibuang
Di sini, otak cemerlang jadi pajangan di pojok gudang
Disingkirkan telangkas-telangkas berperut buncit yang kenyang menyusu upeti

Gelar akademik hanyalah bungkus kacang di pinggir jalan
Tak guna jika lidahmu tak mahir menjilat sepatu sang tuan
Lihat si dungu itu, tawanya mengguntur, mengencingi tumpukan emas
Ia tak butuh rumus, hanya tali pusar yang masih terikat pada tahta

Uang bekerja lebih fasih dari doa
Batu tak lagi batu di bawah kelopak mata hukum yang katarak
Dosa menguap, menyisakan harum busuk yang disebut pahala
Dan mata hukum, tekun menghitung lembar demi lembar merah

Tunggu saja
Saat luluk meluap, istana kaca kalian akan karam
Tak ada uang yang cukup untuk menyogok maut agar bungkam
Di liang lahat, emas kalian hanya pengganjal bangkai
Semua akan dilahap tanah
Menjadi abu yang tak lebih mahal dari debu jalanan

Nusa Tenggara Barat, 30 Maret 2026

Muhammad S Hadi, yang memperkenalkan diri di ruang digital dengan nama Hadi Arrasyid, adalah seorang penulis dan pekerja profesional yang tinggal di Nusa Tenggara Barat. Di usianya yang ke-36, ia mengintegrasikan etos kerja yang tinggi dengan kreativitas literasi sebagai bagian tak terpisahkan dari gaya hidupnya. Baginya, bekerja dan menulis adalah dua pilar yang saling menguatkan, bekerja memberinya perspektif realitas, sementara menulis menjadi ruang untuk mengolah makna dari setiap pengalaman. Nama IG: @aksa.ra1945

0 komentar