Puisi-Puisi Abdul Hafidz


SETITIK DEBU

Hanya setitik debu
yang singgah di pipimu,
diam-diam menyentuh kulitmu
sebelum bersembunyi
di balik bantal tempat tidurmu.

Tak kau usir.
Tak kau sadari.
Ia tinggal seperti kenangan
yang datang tanpa mengetuk,
lalu menetap
meski tak pernah diminta.

Barangkali ia membawa
sisa jalan yang pernah kita lewati,
aroma sore yang tertinggal
di ujung rambutmu,
dan suara namaku
yang dulu begitu dekat.

Malam turun perlahan.
Kepalamu rebah di bantal,
dan setitik debu itu
tetap di sana,
seperti sesuatu yang kehilangan rumah
namun belum rela pergi.

Pagi akan datang.
Kau mungkin mengguncang bantal itu,
membiarkan debu jatuh
dan hilang bersama cahaya.

Tapi tidak semua yang jatuh
benar-benar pergi.

Ada yang menjadi debu.
Ada yang menjadi kenangan.
Dan ada yang menetap
di sudut paling sunyi dari hati,

meski pemiliknya
sudah lama pergi.

Pekanbaru, 23 Desember 2025

DI MATAMU, SENJA

Matamu berbinar bagaikan
kelap-kelip bintang
yang diam-diam menyalakan malam.

Wajahmu memerah bagaikan
langit dikala senja,
ketika matahari perlahan pamit
namun meninggalkan warna
yang enggan dilupakan.

Aku memandangmu
tanpa banyak kata,
sebab ada keindahan
yang justru kehilangan makna
ketika terlalu banyak dijelaskan.

Senyummu adalah cahaya
yang jatuh pelan di dadaku,
menghangatkan ruang
yang lama ditinggalkan sunyi.

Dan entah mengapa,
setiap kali matamu menatapku,
aku merasa waktu berhenti sebentar,
seolah semesta memberi kesempatan
untuk menyimpan wajahmu
lebih lama di ingatan.

Jika suatu hari
kau bertanya apa yang paling kuingat darimu,
mungkin bukan suaramu,
bukan langkahmu,
bukan pula kata-kata yang pernah kau ucapkan.

Melainkan sepasang mata
yang pernah membuat malamku berbintang,
dan wajah yang pernah membuat senja
terasa begitu dekat.

Kini kau telah pergi,
dan anehnya,
bintang-bintang masih berkedip,
senja masih datang seperti biasa.

Hanya aku yang tak lagi sama.

Sebab sejak kau pergi,
setiap kali kutatap langit,
aku tak lagi mencari bintang.

Aku mencarimu.
Dan setiap kali senja tiba,
aku kembali kehilanganmu
untuk kesekian kalinya.

Pekanbaru, 14 Januari 2026

Abdul Hafidz AR, S.IP adalah penulis dan pegiat literasi yang berdomisili di Pekanbaru, Riau. Ia dipercaya sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kota Pekanbaru dan aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Selain berkiprah di dunia literasi dan komunikasi publik sebagai Humas PWI Riau, ia juga menulis opini di sejumlah portal daring. Sesekali, ia menuangkan kegelisahan dan refleksi tentang kehidupan melalui puisi dan cerpen.

0 komentar