PARADE PUISI


Akar Tertidur di Bawah Batu
Oleh: Diny Nirmala Biru

Di mana bukit meregang dada,
bisikan runtuh di antara pekat mistik:
tanah telan jejak-jejak tua,
bungkus napasmu dengan senyap karam.
Engkau tak pergi, Kakek,
hanya memilih tinggal di urat-urat bumi.
Tanganmu saban hari sapa ladang,
Mendekap hening yang panjang,
menyatu dengan dingin dada lereng legam.
Longsor itu bukan sekadar debu dan batu,
melainkan selimut kelabu pemeluk erat,
jadi nama dan kenangan
legenda berbisik dari akar ke akar,
pahat abadi di dasar tebing tak tercapai mata.
Biar dunia jalan di atas tanah ini,
mereka jalan di atas napasmu yang abadi.

Riau, 10 September 2026

Diny Nur Asyfah dengan nama pena Diny Nirmala Biru lahir pada 6 Maret 2010. Ia adalah siswi dan pelajar berprestasi di SMK Negeri 1 Tualang, serta anggota Pramuka aktif. 

Hobi Diny adalah merangkai puisi dari setiap pikiran yang tak sengaja terlintas, lalu membacanya kembali sebagai semangat untuk terus belajar dan bertumbuh. 

Bagi Diny Nirmala Biru, menulis adalah cara berbakti dengan kata. Melalui karya-karyanya, ia ingin mengajak generasi muda berani bersuara, berani bermimpi, dan tetap menjunjung nilai kebaikan. Aktif di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS). IG: @syfnd.grl

Tepian Siak Sri Indrapura
Oleh: Joyce Arifin

malam menambat perahu
bulan menggantung di ujung cerita
tetua simpan hikayat pada lipatan tikar dan asap pelita

di gubuk itu
angin ketuk pintu kayu
bawa pesen dari seberang
ada janji yang masih terhutang

tak ada prasasti mengukir kisah
hanya celoteh emak:
"jangan congkak pada bumi, sebab sungai tahu ke mana manusia pulang"

kini,
tepian kian sunyi, riuh telah lama pergi
perahu perahu mengunyah jarak
Sungai Siak tetap mengalir
jaga dengung agar tak karam

Melbourne, 13 September 2026

Joyce Arifin. Tinggal di Melbourne, Australia. Suka puisi. Karya-karyanya terhimpun dalam sejumlah antologi. Aktif di Asqa Imagination School (AIS). IG: @joycearifin

Sepetak Kasur Busa
Oleh: Wahyu Tanoto

Di sepetak kasur busa
mimpi serupa kabut meliuk di balik gorden
seorang terjaga dengan raga meriang menegang
menatap tumpukan buku pada meja
mengingat lembar-lembar catatan terserak
dari laci yang usang
kaca-kaca penatap berdebu dihantam cahaya.

Ia mengeja-eja sebuah kata, “Hening”
namun sunyi justru menelanjangi ingatan
membawa gemuruh yang tak kunjung padam
menjebaknya dalam labirin malam yang fana.

Di sepetak kasur busa
dibayangkannya mimpi adalah lorong kereta tua
atau penunjuk jalan tanpa penerang
yang membawa pengembara dari bising kota
ke dasar sunyi jurang lelap terdalam.

Pengembara dengan lingkar mata hitam
dan lantai dipenuhi bayang-bayang hitam serta sisa penat.

Ia teringat kembali tentang kegelisahan
berkali-kali, berulang-ulang
dan dibayangkannya mimpi seperti sulaman benang
disusun perlahan dengan tangan lelah.

Dibayangkannya mimpi seperti raga tanpa beban
melompat tinggi menembus batas tembok kamar
merasakan kebebasan liar yang selama ini terkurung.

Mertosan Wetan, 14/09/26

Wahyu Tanoto. Lahir di Banjarnegara pada Selasa Wage 28 April. Mukim di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menulis esai, fiksi mini, geguritan, cernak dan cerpen. Puisi-puisinya diterbitkan dalam antologi dan diunggah ke media online. Beberapa kali memenangkan juara lomba cipta puisi. Instagram: @yutanbantul

0 komentar