Air yang Mengalir
Oleh: Kazain Izzativa
Ajarkan aku sepertimu, air
Di mana kau sembunyikan getir?
Menelusuri celahan egonya batu
Pun kau tetap utuh
Ajarkan aku sepertimu, air
Mengalir lembut di kerendahan hati
Merunduk sabar di puncak rasa
Adakah kau mengenal luka, wahai air?
Pecah riak resahmu menganga
Tapi kau tetap,
Di genangan tabah
Saat aku tersesat di riuhnya hari
Kau tetap lembut mengalir
Deru badai kau hadapi
Aliranmu tetap sejukkan hati
Sejauh mana kau mengembara, wahai air?
Menyusuri lapisan hari menghimpit
Menghantam tebing pongahnya diri
Di jejak waktu yang terus menguji
Pada setiap aliran keruhnya dosa
Bagaimana kau tetap kembali bening?
Tanpa penuh meluapkan sakit
Tanpa perih mengikis hati
Dan kau, tetap terus mengalir.
Pekanbaru, 4 Agustus 2026
Afrina Putri Kazain, nama pena dari Kazain Izzativa, lahir di Pekanbaru dan mulai bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) sejak 2014. Beberapa karya puisi dan cerpennya pernah dimuat di Riau Pos, Haluan Pos, Lampung Pos, dan Pekanbaru Pos. Karyanya juga pernah tergabung dalam sejumlah antologi bersama, di antaranya Riwayat Asap bersama FLP dan Matahari Riau. Baginya, menulis adalah cara paling utuh untuk mengabadikan rasa dan meninggalkan jejak melalui kata.
IG: @kazainizzativa
Threads: kazain_
FB: Kazain Izativa
Masihol
Oleh: Loym R. Sitanggang
Di punggung bukit, seintip fajar rekah,
dia meletak doa, dibumbui aroma kopi,
dan senandung ilalang.
Di kemudian hari dia merapati ratap,
dengan liur senja yang menolak malam,
basah seluruh hidupnya dalam doa.
Kemarau bergeser lembut menuju musim penyejuk
sehalus mendung merayu hujan
luruh, melipat satu demi satu kerinduan
dalam degub kenangan
Alkisah lahirku di ladang kopi yang ranum
putiknya salju, dibuai umpasa dari ompung
“Tinaba parira, bahen hite pargantongan, sai tubu ma boru na pantas marroha, na marparange sitiruon."
dipeluk doa dan tona damang dainang,
“Ingkon masihol do boruku mulak tu huta, tano hatubuan”
Deli Serdang, 22 Agustus 2026
Catatan:
1 . Masihol: rindu
2. Umpasa: perumpamaan
3 . "Tinaba parira,bahen hite pargantongan, sai tubu ma boru na pantas marroha, na marparange sitiruon.”: Semoga anak perempuan ini tumbuh, menjadi sosok bijak dan berperilaku terpuji dan dapat menjadi contoh.
4 . Tona damang dainang: pesan ayah dan ibu.
5 . "Ingkon masihol do boruku mulak tu huta, tano hatubuan.” : Anak perempuanku akan selalu selau rindu untuk pulang ke tanah kelahiran.
Loym R. Sitanggang, lahir di Sumatera Utara lima puluh tahun lalu. Menulis adalah impiannya sejak lama, di tengah kesibukannya sebagai seorang tenaga kesehatan.
Menulis merupakan salah satu cara dia mengekspresikan diri tentang sekelilingnya, memotret kehidupan orang-orang di sekitarnya dengan segala kisah, secara fisik maupun mental. Dia sudah menerbitkan beberapa antologi cerpen juga puisi dan saat ini sedang belajar puisi di Asqa Imagination School angkatan #61. Hubungi ia via akun medsos FB: Loym R Stg dan IG: @loym_sitanggang
Aksara di Hadapan Senja
Oleh: Sekar Hartono
Di hadapan senja ranting-ranting menjelma aksara,
dengan garis yang tak pernah lurus,
dengan bahasa yang hanya dipahami angin.
Aku berdiri di hadapannya,
mencoba membaca
lekuk demi lekuk
yang saling bertindih.
Tak ada satu pun kata
yang selesai.
Di bawahnya,
matahari perlahan menyentuh bumi,
seperti titik
pada kalimat yang panjang.
Langit berubah warna.
Ranting-ranting tetap hitam,
menjadi aksara tua
yang tak kehilangan makna
meski berkali-kali diterpa musim.
Barangkali hidup memang begitu,
kita tak selalu menulis
dengan tangan yang tenang.
Ada garis yang berbelok,
ada kalimat yang saling bertabrakan,
ada halaman
yang terlanjur penuh coretan.
Senja turun perlahan.
Matahari menjadi titik merah
di ujung tulisan.
Ranting-ranting masih menulis,
sementara angin
menghapus satu demi satu
kata yang belum sempat dibaca.
Purwokerto, 18 Agustus 2026
Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394


.png)
0 komentar