Hujan Ulat
Oleh: Ihya Nur Fawa'id
di halaman rumah nenek
daun-daun rimbun
adalah awan yang
menjatuhkan ulat
kita berjalan dengan payung
setiap hendak ke warung
kini langit di halaman nenek
selalu cerah dan awan
hanyalah uban di kepala langit
tak ada lagi yang hijau
kecuali satu ulat
kecil yang jatuh di atas kepalamu
dulu yang kini telah
menetas sebagai kupu-kupu
terbang mencari-cari bunga
yang kini hanya ada
dalam kenangan.
2026
Ihya Nur Fawa'id. Bergiat di Karawang. Calo di @calopuisi sebuah aktivasi penulisan puisi on the spot dengan mesin tik. Bisa disapa melalui Instagram: @calopuisi atau @ihyafawaid
Panggung Sandilara
Oleh: Kairan Hanafi
Konon,
Ada pena yang menari bersama dialog
Kertas menjadi panggung imitasi
yang mengukir kisah si bodoh
Lampu menyoroti kepalanya,
Imajinasi mulai meledak
Merasuk ke mata penonton
Namun kursi bersorak dengan nada mengejek
"Huuu!" di pikiran dia sendiri
1).
Dilema tertahan di tirai panggung
Ia mengecat kepala, pundak, lutut dan kaki
Sembari memberi lelucon yang kaku.
Penonton tertawa dengan payah,
Menggema ke penjuru asa
Dan si bodoh berbisik lirih 'demikian'
Pada tangis dan lakon kehidupan miliknya.
2).
Tinta melumuri dosa di ujung jarinya
Warnanya hitam pekat mengkilap di naskah kekuningan
Tapi sejak kapan tinta melumuri ujung jarinya?
Ironinya, si bodoh menyadari bahwa— tinta, bukan, resah telah dia jerat ke atas panggung
3).
Lampu sorot mulai padam di kepalanya
Dia membungkuk dengan tingkah gelagak
Sorakan dan dialog kini berakhir haru
Lakon telah usai namun kisah tak selesai
Si bodoh melangkah keluar,
Meninggalkan tepuk tangan di atas panggung yang sunyi
Pekanbaru, Agustus 2026
Kairan Hanafi, Siswa SMA Al-Huda Pekanbaru yang sangat suka menulis, membaca dan menggambar, kurang bisa berekspresif di depan orang dan lebih memilih terbuka di depan kertas dan di ujung pena. Kelahiran 7 Agustus 2008. Karyanya dibukukan dalam beberapa antologi, pernah dimuat di tirastimes.com, sepenuhnya.com, sanggam.id. Bergiat di Ekskul Sastra Al Huda. IG: @kei_han77
Ketika Tanah Masih Mengenal Telapak
Oleh: Sekar Hartono
Kami lahir
ketika tanah
masih menghafal
jejak kaki.
Pagi
berbau kayu bakar.
Ibu meniup tungku
hingga api mengeja nasi.
Ayah pulang
memanggul hutan,
di pundaknya:
seikat ranting,
umbi, dan peluh
yang tak pernah merasa miskin.
Sungai adalah cermin
yang tak pandai berdusta.
Kami mencuci tawa,
melepas layang-layang daun,
lalu pulang
dengan matahari
masih menempel di betis.
Tak seekor burung
pernah mengunci nyanyiannya.
Tak sebatang pohon
menolak orang berteduh.
Malam
datang bawa pelita.
Kami saling menghafal wajah
sebelum memeluk mimpi.
Kini
rumah-rumah tinggi
menumbuhkan pagar.
Orang-orang
lebih menghafal sandi
daripada nama tetangga.
Ibu masih simpan tungku itu,
meski tak ada kayu hidupkan api.
Katanya,
bukan bara yang sulit padam,
melainkan riuh anak-anak
yang dulu penuhi dapur
sebelum rumah belajar sunyi.
Hutan
tak habis ditebang
oleh kapak.
Ia habis
ketika manusia pulang
dengan tangan penuh cahaya,
tetapi tak temukan lagi
gelap
yang dulu membuat mereka
duduk bersama.
Purwokerto, 3 Agustus 2026
Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394


.png)
0 komentar