PARADE PUISI


Mengapa Rindu Tak Pernah Tidur
Oleh: Abdurrauf Busra

Di suatu malam yang sunyi 
Aku bertanya pada diriku
Meskipun mata telah lama terpejam 
Ia datang tanpa mengetuk pintu 

Masuk bersama pada malam hari yang sunyi 
Menghidupkan kembali kenangan lama
Rindu yang terpendam dalam hatiku membasahi jiwa

Ia duduk di sampingku sambil mendinginkan hatinya
Dan menyimpan kembali kenangan di masa lalu 

Pekanbaru, 3 Agustus 2026

Abdurrauf Busra. Adalah siswa kelas XI bismen SMKS Al-Huda Pekanbaru. Kelahiran 16 Oktober 2010. Ia pernah mengikuti lomba baca puisi di Praktikum Sastra ke 34 di Universitas Riau (UNRI) dan Bulan Bahasa di Universitas Islam Riau (UIR). Aktif di Ekskul Sastra Al Huda. IG: @abdurrauf6346

Siklus Waktu yang Hilang
Oleh: dr Desi Yulyanti, SpA 

Langit terang tanpa menara sinyal,
ia masih utuh
menjadi atap bagi layang-layang
yang kami kejar.
Lapangan memanggil permainan kasti bersorak riuh
Peluh jatuh bertemu bau matahari di kulit sawo matangku
Dahaga menguak disiram air tebu nan nikmat
Angin tersingkap saat jambu air kulahap di dahan paling tinggi di atas atap

Debu menari di tanah, diterjang kaki-kaki adu galah asin dan cap benteng,
Tawa dan teriak memekik melewati tali karet gelang sejengkal di atas kepala 

Tak ada gawai
Tak ada media sosial
Hanya radio berdaya baterai, tembang emas Benyamin Sueb dan Ida Royani mengalun di senja temaram, merasuk sukma menghangatkan raga

Televisi hitam putih 
Laga Acara Safari, 
saudara, tetangga nonton bersama,
aroma risol, bihun goreng dan sambal kacang, mengundang air liur bersuka cita

Jajanan duapuluh lima rupiah
terasa lebih mewah
daripada kopi mahal.
Es puter,
Jagung tembak,
Arum manis,
dan uang receh di saku
adalah harta karun
yang membuat dunia penuh bahagia

Kini,
anak-anak menunduk
bukan mencari semut,
melainkan mencari sinyal dan sisa kuota,
Jari-jarinya lincah di atas kaca,
namun halaman rumah lengang dan hampa

Tak ada yang salah dengan zaman.
Hanya saja,
ada suara-suara
yang perlahan menghilang,
teriakan memanggil teman,
tawa yang pecah di lapangan,
Congklak dan gasing tidak lagi dipegang,
Majalah Tom-Tom dan Kuncung yang tidak lagi beredar.
Mengendap dalam kenangan...

Sokowaten-Yogyakarta, 4 Agustus 2026

Dr Desi Yulyanti, SpA. Dokter spesialis anak yang menimba ilmu Subspesialis Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial di FK-KMK UGM, hobi membaca sedari kecil, menulis beberapa antologi dan sudah dipublikasikan, ingin belajar lebih jauh tentang puisi dan berkembang bersama AIS angkatan 71. IG: @dr_desi_yulyanti_pediatrician. FB: Desi Yulyanti

TALI SEPATU
Oleh: Rakhma Noen

embun menempel di ujung sepatu
dan kau bersiap lagi, bukan?
periksa tali sepatumu:
simpul kanan kiri
saling mengingat

terik tepat di ubun-ubun
jalan tak janji landai
batu-batu merapat
menguji telapak
napas lebih dulu tiba
sebelum kaki melangkah

bersama debar itu,
ruang dada melapang
kaki tak berpindah arah
kau tak akan membelakangi puncak, bukan?

waktu memilih senja
periksa tali sepatumu:
maaf, ada simpul doa kuikat
di ujung talinya

KWB, 05 Agustus 2026

Rakhma Agustina Sulistyowati lahir di Kota Batu Jawa Timur adalah seorang pendidik di SMP Negeri di Kota Batu. Perempuan penyuka kucing dan trekking ini bertekad belajar puisi sebagai usaha untuk mengasah kepekaan batin di dunia yang bergetah. Kabar sapa di IG: @rakhmanoen

0 komentar