PARADE PUISI


Delima di Balik Beton Kimbolton
Oleh: Eni Widyawati

Di dalam dada tungku retak dan menua,
Derak sisa batu-bara memeluk sunyi senja.
Keriput di kening adalah peta jalan panjang,
Tempat cucuran peluh dan jelaga lama berperang.

Ada abu masa lalu yang hinggap di jemari,
Bekas tempaan asa pada baja yang teruji.
Anak-anak yang gugur sebelum sempat berdiri,
Menjadi dentang sunyi dalam dinginnya galeri.

Langkah kaki gemetar menapak sisa reruntuhan,
Namun urat nadi tetap mengalirkan keteguhan.
Bukan mahkota ksatria yang ia junjung tinggi,
Melainkan denyut iman kaum papa yang terlindungi.

Kini ia terpasung dalam dingin kastil Kimbolton,
Gelar ratunya dipreteli,
dikubur di balik beton.
Namun di ujung hayat yang ringkih dan terbuang,
Sumpah setia pada sang raja takkan pernah usai berdentang.

Kini malam sisa riuh fana,
Napasnya berbisik pada angin, 
tabah dan bernyawa.
Ia adalah benteng terakhir dari sabar dan derita,
Menyalakan api kecil di pelukan fajar yang buta.

Malibli, 6 Agustus 2026

Eni Widyawati, kelahiran Blitar, 28 Juli 1973. Dia menulis puisi sejak tahun 2006. Puisi-puisinya sering menghiasi pojok-pojok media massa seperti puisi; Daffodill, Ibuku Keramatku, Semilir Desaku Lambungkan Anganku, Terikat Rasa, dll. Ia juga menulis buku solo puisi bertajuk Jejak-jejak Pengabdian; Puisi seorang guru dalam merangkai pengabdian, Dari Ruang Kelas ke Lembar Cerita. Dan puisi-puisi yang terangkum dalam antologi: Guru Pandemi Lahirkan Inovasi, Senandung Merdeka Sang Pendidik Bangsa, Singgah Sebentar, Cinta Pertama, Kau Yang Selalu Dalam Do'aku,Tarian Pena Para Dwija Penataran, Seruling Rindu, Simphony Sunyi Di Bawah Langit Persahabatan, Satu Bait Satu Cahaya Untuk Negeri dan Bunga Rampai Kelas Sunyi

Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #69 
IG: @eni.widyawati.31105

Laut
Oleh: Faiza Cindy Enjelisa

​Seruan angin yang menggema,
Desir ombak membelai,
Adanya rindu yang tersampaikan.
​Di dalamnya tersimpan banyak hal,
Telah menjadi saksi waktu yang terus berjalan,
Memeluk bumi dalam dekapan asin nan abadi.

​Pekanbaru, 5 Agustus 2026

Faiza Cindy Enjelisa. Adalah siswa kelas X.B SMA Al- Huda Pekanbaru. Kelahiran 12 Agustus 2011. Aktif di Eskul Sastra Al-Huda. IG: @cramellyy.cindy

Dua Kali Dua
Oleh: Setiabasa 

Ada sebuah ruang
yang tak pernah meminta
siapa pun tinggal.
Pintunya dikunci.
Dunia
tertinggal
di balik engsel.

Di dalam,
waktu menetes
dari bibir logam.

tes…

tes…

Porselen putih
menyimpan dingin
sepanjang hari.
Cermin
berkabut,
mengembalikan
wajah yang tak utuh.

Di sini,
jas digantung,
cincin dilepas,
lengan baju digulung.
Tak ada pangkat
di antara lutut
dan lantai.
Tak ada tepuk tangan
di balik pintu.

Hanya napas
yang sesekali terdengar
lebih panjang
dari biasanya.

Sebuah noda air
merambat
di sudut dinding.
Serangga kecil
berhenti di dekat lampu,
lalu terbang
entah ke mana.

tes…

tes…
Keran tetap bocor.

Seseorang
menekan tuas.
Air berputar,
membentuk pusaran,
menarik apa saja
yang berada di jalurnya.
Sesaat kemudian,
permukaan kembali tenang.

Pintu dibuka.
Cahaya masuk lebih dulu.
Kemudian seseorang keluar.

Hari
masih berjalan
seperti biasa.

Rintis, 7 Agustus 2026

Setiabasa, seorang ibu rumah tangga, ibu dua orang putra dan nenek sepasang cucu. Menyukai membaca sejak kecil. Fiksi, non-fiksi dan juga puisi. Sejak akhir 2022 mengikuti beberapa kelas online: Uti, Asqa Imagination School (AIS), Ruang Kata, Symprerifora dll, untuk belajar menulis puisi dan karyanya sudah masuk dalam beberapa buku antologi puisi.

Ia tengah mempersiapkan buku puisi perdananya. Aktif di Kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS). IG: @setia.xu

0 komentar