Seng Uzur
Oleh: Asniar Duha
sembilan puluh sembilan langkah tenggelam di lumpur
rembulan memantau di atas seng uzur
sekarung padi mendengkur di lumbung
sehelai asap naik di dapur yang lupa nama
begini kami memikat tubuh pada tanah
akar-akar doa jadi gulma
rasa lapar karam dalam periuk
kami mengayuh sehirup demi sehirup malam kian cungkup
lampu togok padam
ibunya kram
ayahnya karam
anak-anak jadi kunang-kunang
bercahaya dengan sendirinya
di bawah pohon yang jadi perpustakaan
hujan atap
angin kipas
daun pisang meja
bintang lampu jalan
jangkrik radio
kami miskin
tapi kepala kami padat
kini semua terang
kami padam di dalamnya
jalan diaspal
tapi arah hilang
ponsel berbunyi
tapi sunyi makin keras
siapa menggali tanah
membuat liang
mengubur tawa
ke dalam kepalan dendam kemajuan
Kubang Raya
tahun ketika manusia menancapkan nama jalan
tapi membubut nama leluhur dan kini asing di negeri sendiri
Sibolga, 3 Agustus 2026
Asniar Duha, lahir di Gunung Sitoli 14 Juni 1976. Menetap di Kota Sibolga Propinsi Sumatera Utara. Tertarik menulis sejak Maret 2019 dan bergabung bersama beberapa komunitas menulis online. Karya perdana dengan judul Fake Love di salah satu platform digital dan telah mendapatkan kontrak. Novel Cetak Perdana dengan judul "Terpaksa Mencinta" novel cetak kedua “Bunga dalam Kubangan”, buku bografi cetak berjudul “Meniti Buih Melintas Batas”. Selanjutnya penulis aktif dalam komunitas belajar menulis puisi di Asqa Imagination School (AIS) #33 hingga saat ini di AIS#71. Dan hasil karya menulis puisi tersebut sedang dirilis menjadi sebuah buku solo puisi.
Sedangkan karya antologi yang sudah cetak yaitu Merajut Asa dalam Cinta (Cerpen), Mengungkap Ragam Hati Semesta (Cerpen), It's Not To Be OK (Cerpen), Suami Pilihan (Cerpen), Merajut Asa Dalam Cinta (Cerpen), Tinggal Kenangan (Cerpen), Rangkaian Aksara Berbalut Mutiara (Quotes), Magic Words for Self Healing (Quotes), Serenade Segenggam Uban dan Ruh di Bawah Loteng (Puisi), Kurcaci & Langit Cekung Basah (Puisi).
FB: Misis Asniar Duha saja
IG: @ardha_fadhillah
Serap Sabar Lebur Makna
Oleh: Fasha Rizqikan BR. Pane
Kata "pergi" terlalu ringan untuk luka yang mengendap,
dan kata "ikhlas" terlalu berat untuk hati yang masih belajar.
Di antara keduanya, aku menanam sabar
di halaman rumah yang dulu kita tanami bunga bersama.
Buram oh mataku buram, membayangkan perpisahan yang tak sempat diucapkan.
Seperti senja menatap, diam namun meninggalkan warna
yang lama tinggal di mata.
Pekanbaru, 05 Agustus 2026
Fasha Nabila Rizqikan Putriani Boru Pane. Adalah siswa kelas X.B SMA Al–Huda Pekanbaru. Kelahiran 31 Maret 2011. IG: @qizunee
ARSITEKTUR KEBISINGAN
Oleh: Santri Nurhafni
Malam begitu hening.
Namun di dalam diriku,
sebuah kota runtuh
tanpa suara.
Ada nama
yang terus dipanggil
oleh dinding ingatan.
Ada kehilangan
di kamar-kamar
yang tak lagi dihuni.
Aku diam—
sementara sesuatu
yang tak selesai
terus tumbuh menjadi gema.
Malam semakin sunyi.
Aku semakin gaduh.
Barangkali hening
bukan ketiadaan suara,
melainkan ruang
tempat yang tak terucap
untuk belajar hidup
di dalam dada.
Pekanbaru, 5 Agustus 2026
Santri Nurhafni, lahir di Sungai Batang, dan berdomisili di Pekanbaru, Riau. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan BUMN, ia pernah belajar kepenulisan di Asqa Imagination School (AIS) serta aktif mengikuti berbagai kegiatan kepenulisan dan sejumlah antologi puisi, di antara judul puisinya _Mahar Kebebasan, Dan Percakapan, Dan Perjanjian, Hikayat Perjalanan, dan Kau dan Perjanjian._
Puisi “Ibu” dan “Rumah Sepi” menjadi 10 Puisi Terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional. Baginya, puisi adalah cara sederhana untuk merawat ingatan dan menyuarakan rasa.
Facebook:@SantriRasyidsangMentari
Instagram: @heartlieni


.png)
0 komentar