PARADE PUISI


Renungan Toilet
Oleh: Dian Riasari

Sial, belum sembuh sisi robekan dada, 
koyak lagi di sisi satunya
kutarik napas panjang
biar tahu nyawa masih semayam
jantungku nyaris letup, segera aku berlari
menuju ruang sembunyi

Dalam toilet adem, kuputar knop shower
pecah tangis yang redam sepanjang siang
beradu ricik air di kepala
kucing mungil di handuk ikut murung 
terayun lunglai di gantungan

Lux aroma velvet jasmine lumuri semua keruh kalbu
busa bercampur daki luruh di keramik terrazzo
perlahan kutata patahan hati
serupa sebaris mozaik di dinding ruang

Ketika gemuruh dada mulai reda, 
tetiba perutku meronta
waktunya bertapa
buang racun dalam lambung
kutenangkan diri, duduk rapi
atur napas, tahan napas
Lalu, semua lepas. 

Malang, 7 Agustus 2026

Dian Riasari, pegiat literasi dari Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada 40 lebih buku antologi (cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, dan puisi) serta satu buku solo. Beberapa karya puisinya dimuat di media online dan cetak, seperti: Harian Bhirawa, Tiras Times, Bambang Kariyawan.com, Ngewiyak, Riau Sastra, Negeri Kertas, Jurnal Tinta, Dermaga Sastra, Kabaran.id, Ranah Riau, Laman Riau, Jurnal Puisi Cinta. Bergabung di komunitas Alumni Asqa Imagination School (AIS), Community Pena Terbang (COMPETER), dan Ruang Kata. IG: @dian_de_lala. FB: Dian Riasari.

Tanah, Sungai dan Tawa
Oleh: Rini Ahyu

Jernih, gemercik tetes kehidupan di tebing keniscayaan,
bening menembus inti geliat kehidupan.
Liukan aliran Batang Selo, nyawa kampung,
lengking tawa bertingkah putaran roda,
dering tiada, hanya gemerisik dedaunan di semilir bayu.
Hutan, ladang, kebun,
tempat, alam dan manusia berpelukan dalam kesederhanaan.

Pecah kepingan kecil batu-batu basah,
menggunung koin-koin logam di telapak mungil.
Jemari kecil, wajah sumringah setiap Rabu yang dinanti,
menyusuri jalan tanah menuju alek pasar mingguan.
Keringat palu beranak sungai, Kamis hingga Selasa,
namun perut kosong selalu menemukan kesukaan
dari hasil kebun, ladang, dan tangan sendiri.

Berlari, bergenggaman,
bersama riang tiada nestapa.
Tapak kecil menjejak pijakan bumi,
jalan terjal tiadalah susah.
Ke mana pun kaki melangkah,
alam membuka jalan,
angin menyapa, pepohonan memberi teduh,
sungai menjadi teman perjalanan.

Senja menurunkan cahaya di antara pepohonan,
anak-anak pulang membawa tawa dan cerita.
Di beranda, celoteh ditimpa hikayat para tetua,
tentang sungai, hutan, ladang, dan leluhur.
Tak banyak yang dimiliki,
namun cukup untuk berbagi,
sepiring nasi, seteguk air,
dan hangatnya hidup bertetangga.

Pekanbaru, 9 Agustus 2026

Rini Ahyu. Kelahiran Padang Ganting, 22 September 1979. Seorang guru yang menyukai dunia kepenulisan dan mulai serius menulis tahun 2000. Aktif menulis antologi dengan beberapa komunitas kepenulisan seperti FLP, JSDI, ATPUSI dan KPBJ. Karya cerpen yang pernah dimuat media massa yaitu *Aku yang Terluka* di Bangka Pos.  

Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #71. IG: @riniahyu

Sebuah Racau
Oleh: S. N. Aisyah

Tiap kali kutatap langit 
Dedaunan seperti mendayu
Ditiup angin yang syahdu
Riuh di kejauhan memudar
Mewujud senyap
Ketenangan yang tak dapat
Kubeli di langit-langit mana saja

Lama sudah aku berbaring
Di puing-puing bawah tanah
Kamar pengap tempat mimpi
Jadi bangkai dan belulang
Berulang, 
Menyebar momok dan aroma busuk 
Mengaduk perut, memuakkan 

Mungkin saja kematian-kematian
Harapan hanyalah pelipur lara
Yang kerap diputar ulang pada gawai;
Sebuah pelarian dan pengkhianatan kecil
Dari raksasa yang menyuruk di bawah kolong-kolong yang ditemuinya;
Anak dari badai es dalam dada dan kobaran api di kepala
Siap menebas dan membakar 
belukar dan rambat "si dingin" 
Memecah cermin jadi beribu ingin

Telah lama aku berbaring 
Di ranjang reot yang tak dapat menjamu kantuk
Melahirkan rutuk yang selalu kukutuk
Ya. Aku mengutukmu, rutuk.
Menyiram tahi dengan air seni. 
"Kerja tak guna," begitulah kata guruku. 
Kesia-siaan telah susupi materi putih. 
Otakku jadi kotak-kotak
Serupa permainan balok di 
taman kanak-kanak;
Selalu saja kehilangan tabung
Memicu tangis yang dibendung

Kata Ibuku,
Ah, sial. Aku sudah lupa apa kata ibu
Sedang Ayah sudah lama menyimpan suara
Mungkin itulah sebabnya segala bunyi
menjelma gaduh saja
Buah dari kesopanan anak durhaka

Lagi-lagi aku bertanya,
Jika saja kutengadahkan kepala,
Pantaskah kiranya kuhaturkan asa
berkawankan angkasa,
Menyapa bintang,
Biarpun nanti hanya dibalas sunyi--
Dan setangkai
mawar putih di atas peti? 

Kota Bertuah, 2026

S. N. Aisyah. Panggil saja sna. Lahir dan bermukim di Pekanbaru. Menemukan rumah belajar di Competer. Hobinya bermain kata menyeretnya dalam beberapa Antologi bersama, di antaranya Rindu yang Tertinggal di Lembah Harau (puisi), Riuh Riau (puisi), Sayap-Sayap Mimpi (Cerpen), Tujuh Puluh Tujuh (Cerpen), Vellichor seri 3 (Cerpen), Mereka Menangis Demi Senyum Kita Hari Ini (Cerpen), dan Menjadi Wanita Paling Bahagia (Esai). Beberapa karyanya juga pernah dimuat di Riau Sastra.com. Penulis dapat dihubungi di akun Instagram: @sn_aisyah62 atau Facebook: Siti Nur Aisyah.

0 komentar