Mati, Matilah Mimpi
Satu dasawarsa rakyat dininabobokkan
Dongeng suatu negeri yang kaya raya
Penguasa tambang emas
Ekspansi nikel, batu bara
Tambang-tambang lainnya
Suaramu begitu merdu
Terdengar di kuping-kuping jelata
Yang telah kau suap dengan amplop
Sembako, nasi bungkus
Di balik janji-janji palsu membatu
Tenang, tenang lambungkan terus mimpimu
Puja-puji berbusa-busa
Terus merapat dan menjilat
Turuti saja apa kemauan majikan
Tak terasa kau telah dimanfaatkan
Hidup cuma sekali mengapa tak jeli
Kau gadaikan nalar dan akal budi
Sampai-sampai lupa diri
Andai mungkin Tuhan pun kau beli
Kenyataannya kini kehilangan mimpi
Solo, Feb. 2026
Surat Untukmu
: korban banjir Sumatera
Saudaraku di seberang sana
Aku di Jawa menulis surat ini
Ikut sedih, sebulan pasca banjir itu
Engkau masih menenun sunyi
Menyulam kata duka di malam gelap
Aku ikut meneguk tiap dukamu
Pahit paling empedu mengisi piala retak
Hormatku padamu tak ada batas
Begitu tabah kau jalani cara Tuhan
Menyelimuti kasih di balik kehilangan
Jangan bosan membaca suratku
Akan terus kutulis berseri-seri
Sebab waktu belum menutup kitabnya
Masih banyak ruang-ruang belum ditafsir
Ada degup kehidupan belum diurai dengan benar oleh nasib
Yakinlah, luka dan dukamu
Bukan penghancur apalagi kiamat
Ia hanya titik kecil
Membentuk seberkas cahaya
Kan jadi pengingat dari mana ia berasal
Bila kau baca surat ini
Aku masih setia di jauh sana
Menemanimu dalam doa
Baik-baiklah menata hati
Semua terjadi atas izin Illahi
Solo, Feb. 2026
Putri Bungsu lahir di Kulon Progo, pada tanggal 26 September. Wanita berzodiak Libra ini gemar menulis dan advanture. Bergabung dengan banyak komunitas dan telah menerbitkan buku puisi tunggal maupun antologi bersama baik nasional maupun internasional. Bisa silaturahmi melalui FB: Putri Bungsu


.png)
1 komentar
Puisi memotret zaman maka kuabadikan setiap kisah dalam puisi.
BalasHapus