Ruang Sunyi di Bilik Dada
di bilik dada ada sungai kecil
alir tanpa suara
bawa serpih tanggal-tanggal yang pernah kutinggal
di meja, di doa, di dinding tanpa tanya
mengapa malam selalu datang dengan bau besi
pagi, tubuh terlambat bangun dari sejarahnya sendiri
tulang-tulang seperti rak buku hilang judul
kusimpan hujan di saku kiri
agar langkah tetap basah
oleh kenang yang tak pulang
di taman belakang, sebatang pohon menua lebih cepat dariku
daunnya jatuh bukan karena angin
melainkan ingatan makin berat
digantungkan pada waktu
yang tak pernah dicatat siapa pun
kadang kulihat bayangku berdiri di tikung jalan
seolah ingin sampaikan pesan
hidup bukan tanpa kelok
tapi pintu-pintu terbuka bagi mereka yang berani hilang
maka kusimpan namaku sendiri
di bawah batu kecil di tepi sungai dada itu
sebagai tanda aku ada
meski tak sempurna
meski dunia tak menaruh cahaya
di tempat aku letakkan langkah
Kodam 2, 27 November 2025
Kematian di Punggung Malam
di antara bisik angin, kematian pernah duduk di ujung ranjang lelaki tua itu—
orang yang kau kenal dari cerita ibumu
mata keruh, tubuh seperti perahu bocor terus memanggul malam
Ia kata tanpa suara, hanya lewat bayang memanjang
tubuhmu rumah merapuh oleh waktu
ketakutan tumbuh dari napas memendek
dari detak jantung tersendat seperti kerikil sangkut di arus sungai
Ia pernah berujar kematian bukan bayang hitam
tapi cahaya pucat rambati pori
menyentuh dingin hingga tulang menunggu retak.
ajal tak mengetuk pintu
ia masuk dari celah tak pernah kau sangka
dari sepi yang terlalu lengang
dari ingatan kabur
seperti kaca berkabut.
lalu seorang perempuan dulu kau kenal
tubuhnya kerut seperti tanah kering ditinggal hujan
Ia tak takut kematian, hanya sisa-sisa pamit menggantung, menunggu dijahit waktu
dinyalakannya lilin kecil, pastikan Tuhan masih ingat namanya di antara ribuan yang terburu pulang.
kini, kematian hadir seperti burung hitam
tanpa sayap, hanya bayang menggesek tanah
menyatu di dada seperti kabut pecah
kau tahu---- yang gigil bukan senyap akhir
tapi pada lorong rahasia yang dibawa tanpa jejak
Kodam 2, 2025
Syalmiah, S.Pd., lahir di Makassar, mempunyai hobi membaca dan menulis. Karya-karyanga dimuat dalam sejumlah media online, dan sebagian tergabung dalam antologi puisi dan cerpen nasional.
Saat ini Ia aktif di Kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS) di bawah bimbingan Kak Muhammad Asqalani eNeSTe. Ia dapat ditemui di Ig: Syalmiah_74


.png)
0 komentar