Oleh: Daris Kandadestra
Puisi "Ikkayu (2)" karya Muhammad Asqalani eNeSTe merupakan sebuah karya yang sarat akan ironi, kepedihan keluarga, dan potret kemiskinan yang digambarkan lewat metafora yang sangat lokal dan kontemporer. Judul antologinya sendiri, Abu Bakaran Ladang, menjadi puncak perumpamaan dari nasib kelam tokoh-tokoh di dalamnya.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai puisi tersebut berdasarkan struktur bait dan maknanya:
1. Struktur Kebahasaan dan Pilihan Kata (Diksi)
Satu hal yang paling mencolok dari puisi ini adalah perpaduan diksi melankolis klasik dengan bahasa slang/populer generasi masa kini (seperti uwuw, prikitiw, aha!).
• Penggunaan kata-kata populer ini tidak membuat puisi menjadi jenaka, melainkan memperkuat efek ironi dan sarkasme—seolah-olah menertawakan nasib tragis di tengah getirnya kehidupan nyata.
2. Analisis Bait per Bait
Bait 1: Realitas Kemiskinan dan Konflik
sepiring nasi
sepiring dengki
berkuah airmata
digenang amarah
Bait pembuka ini langsung menyuguhkan atmosfer yang mencekam dalam rumah tangga. "Sepiring nasi" menggambarkan keterbatasan ekonomi (serba kekurangan), yang kemudian memicu konflik emosional berupa "dengki", "air mata", dan "amarah". Hubungan domestik di dalam rumah ini tidak lagi hangat, melainkan penuh penderitaan.
Bait 2: Sosok Ayah yang Semu
kata ibu
ayah si tebu tabu
rasa manis
tapi amis
sikapnya klimis
kata-katanya klamis
laki-laki serba astaga
Bait ini menggambarkan sudut pandang Ibu tentang sosok Ayah. Metafora "si tebu tabu" dan "rasa manis tapi amis" menunjukkan dualitas karakter sang ayah: di satu sisi tampak manis atau menjanjikan, namun di sisi lain menyimpan kebusukan atau pengkhianatan ("amis"). Penampilan fisik dan bicaranya mungkin tampak rapi ("klimis" dan "klamis"), namun perilakunya mengecewakan hingga disebut sebagai "laki-laki serba astaga" (membawa kepasrahan atau elusan dada).
Bait 3: Ironi Cinta Ibu
kubilang
ibu kepalang cinta
pada ayah yang uwuw
kata ibu prikitiw
kutahu itu adalah aha!
Di sini, kata-kata modern/slang digunakan secara kontras. Kata "uwuw" (romantis/menggemaskan) dan "prikitiw" digunakan untuk menggambarkan relasi cinta yang absurd atau dipaksakan antara Ibu dan Ayah. Frasa "kepalang cinta" mengisyaratkan sebuah jebakan perasaan—ibu tetap bertahan meski hubungan tersebut toxic atau menyakitkan.
Bait 4: Kesendirian dan Kelaparan Anak-Anak
adikku makan sendiri
berdua dengan labu rebus
bertiga dengan ikan tilan
berempat dengan cabe bulat
Penyair menggunakan teknik repetisi bilangan (sendiri, berdua, bertiga, berempat) yang puitis untuk menjabarkan kemiskinan yang ekstrem. Sang adik tidak makan bersama keluarga besar, melainkan "ditemani" oleh lauk pauk yang sangat sederhana dan seadanya (labu rebus, ikan sungai tilan, dan cabai utuh). Ini adalah potret nyata dari kelaparan atau keterasingan seorang anak di dalam rumahnya sendiri.
Bait 5: Konklusi, Kepiatuan, dan Hubungannya dengan Judul Buku
siapa yang jadikan ikkayu
simbol hidup yang piatu
di mana ibu lebih kelam dari arang,
lebih hirap dari abu bakaran ladang.
Bait terakhir ini menjadi kunci dari seluruh puisi.
• Kata "Ikkayu" diangkat sebagai simbol eksistensi hidup yang "piatu" (bisa berarti kehilangan arah, pelindung, atau kasih sayang sejati).
• Ibu yang seharusnya menjadi sumber cahaya dan kehangatan justru digambarkan "lebih kelam dari arang"—menandakan keputusasaan yang mendalam atau kehancuran mental akibat situasi hidupnya.
• Kalimat penutup "lebih hirap [lenyap/hilang] dari abu bakaran ladang" mengikat puisi ini dengan tema besar buku. Abu sisa pembakaran ladang adalah sesuatu yang rapuh, mudah ditiup angin, hitam, kotor, dan menandakan akhir dari sesuatu yang telah hangus terbakar. Sang ibu (atau esensi kebahagiaan rumah tangga itu) telah hangus dan sirna tak bersisa akibat konflik dan kemiskinan.
Kesimpulan
Puisi "Ikkayu (2)" adalah sebuah ratapan tentang rapuhnya institusi keluarga akibat himpitan ekonomi dan ketidakharmonisan orang tua. Muhammad Asqalani eNeSTe berhasil memotret tragedi domestik ini bukan dengan gaya mendayu-dayu klasik, melainkan dengan gaya kontemporer yang getir, di mana tawa (lewat istilah populer) dan tangis (lewat metafora abu dan arang) melebur menjadi satu potret realitas sosial yang kelam.
Daftar Pustaka:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. kemdikbud.go.id
Eneste, M. A. (2026). Abu bakaran ladang (Sehimpun Puisi dari Masa Lalu ). Penerbit Lumpur.
Pradopo, R. D. (2021). Pengkajian puisi: Analisis struktural dan semiotik. Gadjah Mada University Press.
Ratna, N. K. (2009). Stilistika: Kajian puitika bahasa, sastra, dan budaya. Pustaka Pelajar.
Riffaterre, M. (1978). Semiotics of poetry. Indiana University Press.
Sudjiman, P. (1993). Bunga rampai stilistika. Pustaka Utama Grafiti.
Teeuw, A. (2015). Sastra dan ilmu sastra: Pengantar teori sastra. Pustaka Jaya.
Daris Kandadestra adalah nama pena dari Dedi Saputra. Lahir di Enok, Indragiri Hilir, Riau, 12 Juli 1984. Alumni FKIP Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Riau ini, beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen telah dibukukan dalam beberapa antologi bersama. Pernah memenangkan lomba esai dan puisi, serta mengikuti kegiatan sastra/literasi tingkat nasional. Kicauannya dapat dilihat di Instagram @daris_kandadestra atau di akun facebook Daris Kandadestra. Email: dariskandadestra@gmail.com.


.png)