Puisi-Puisi Hafizha Nabilah Zhafarina

Gema di Ujung Jalan

​Lampu padam.
Hanya daun jatuh di sepanjang jalan,
lebih riuh dari detak jantungku.

​Kesepian ini bayangan,
pantulanku pecah tanpa suara,
luruh bersama hembusan angin malam.

​Lampu jauh berpendar redup,
dan jejak langkahku hilang tertiup debu

Bekasi, 2 Januari 2026

Ambang Pintu Ragu

​Di ambang pintu, angin bertiup dua arah
Satu membawa aroma aspal, gedung menjulang
Satu membawa bau tumisan, tawa bayi
Kakiku terpaku di kayu lapuk waktu

​Masa depan, ufuk memanggil
Berkilau namun terasa asing
Keluarga, jangkar penahan badai
Hangat namun membuatku lupa cara terbang

​Aku takut melangkah keluar
Pintu terkunci selamanya dari dalam
Namun bila berbalik, masuk
Apakah sisa umur habis menatap jendela?

​Membayangkan sosok asing—
seseorang
berani pergi.

Bekasi, 2 Januari 2026

Hafizha Nabilah Zhafarina. Lahir di Kota Pahlawan tiga dekade silam. Baginya, menulis adalah ruang abadi untuk mengarsipkan isi kepala dan caranya untuk menolak lupa.

​Setelah sempat terjeda, Hafizha mulai kembali menekuni dunianya di akhir 2025, yang ditandai dengan terbitnya buku antologi puisi bersama.

Kini, ia sedang mempertajam gaya menulis dan imajinasinya di Asqa Imagination School (AIS).

​Temukan cerita dan tulisannya di IG: @hafizhanabilahzhafarina

0 komentar